pulsa-logo

Facebook Berjibaku dengan Hoax, Penyalahgunaan Data, dan Akun Palsu


Arief Burhanuddin

Senin, 09 April 2018 • 11:22


Bulan lalu, publik dikejutkan oleh terbongkarnya skandal Cambridge Analytics  yang dialami oleh jejaring media sosial terbesar dunia, Facebook. Skandal yang terjadi pada saat pemilu Amerika 2016 lalu tersebut diduga mengakibatkan 87 juta data pribadi di Facebook bocor dan digunakan tidak sebagaimana mestinya.

Mark Zuckerberg, sang pendiri Facebook sendiri telah menyatakan permintaan maaf secara terbuka melalui media massa dan menyebut bahwa hal tersebut adalah sebuah kesalahan besar dan ia bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kesalahan tersebut. 

Selain skandal penyalahgunaan data pengguna, jauh sebelumnya Facebook telah berupaya untuk melawan ancaman yang tak kalah menakutkan: hoax atau berita palsu. Untuk mengatasi hal tersebut, Facebook telah mengupayakan berbagai hal. Diantaranya dengan melaukan kerjasama dengan organisasi pihak ketiga untuk mengecek fakta. Mereka bekerjasama dengan International Fact Checking Code of Principles di Poynter. Facebook akan menggunakan laporan dari komunitas, sejalan dengan laporan lainnya. Jika mereka mengidentifikasi sebuah berita palsu, maka akan terdapat tanda dan tautan ke artikel dengan penjelasan yang benar. Artikel yang diperdebatkan akan muncul lebih sedikit di News Feed.

Di Indonesia sendiri, Facebook menggandeng situs berita Tirto ID  dan meluncurkan program third party fact checking untuk mendorong literasi digital dan literasi berita yang lebih baik di Indonesia. Secara teknis, program ini akan mendeteksi berita palsu yang ada di Facebook. Kemudian, Facebook akan mengurangi distribusi konten dan menyuruh Tirto melakukan pemeriksaan fakta. 

Apabila Tirto menilai sebuah berita itu diragukan kebenarannya, maka akan muncul notifikasi “telah ditandai pemeriksa fakta diragukan akurasinya.” Selain itu, pengguna Facebook juga akan diberi fitur “baca juga” yang berisi konten-konten yang meng-counter.

Persiapan Jelang Pemilu

Guy Rosen, VP of Product Management dalam lansiran persnya menyatakan bahwa selama Pemilu Amerika Serikat di tahun 2016, banyak pemain asing yang mencoba mengacaukan integritas dari proses pemilihan saat itu. Mereka melakukan serangan dengan mengambil keuntungan dari platform online terbuka - seperti Facebook - untuk memecah kesatuan masyarakat Amerika, dan untuk menyebarkan rasa takut, ketidakpastian, dan keraguan.  


Facebook bertanggung jawab untuk mencegah serangan terjadi lagi. Untuk itu mereka menyampaikan pemikiran mengenai Pemilu, dan memberikan informasi terkini tentang serangkaian inisiatif yang dirancang untuk melindungi dan mendorong partisipasi publik di Facebook. 

 Ada empat area keamanan Pemilu yang sedang mereka kerjakan saat ini, yaitu:

  1. Memberantas campur tangan pihak asing
  2. Menghapus akun palsu
  3. Meningkatkan transparansi iklan
  4. Keempat, mengurangi penyebaran berita palsu.

Tak hanya untuk Amerika, keempat hal ini merupakan pendekatan komprehensif Facebook yang dapat diterapkan untuk Pemilu di seluruh dunia.

Sementara itu, Alex Stamos, Chief Security Officer Facebook memaparkan tentang beberapa jenis disinformasi serta orang-orang yang biasa menyebarkannya.

Ketika Facebook membedah permasalahan seputar disinformasi, mereka menemukan berbagai jenis konten negatif dengan motif yang berbeda-beda dari para pelakunya.

Ungkapan “berita palsu” digunakan untuk menjelaskan berbagai jenis kegiatan yang tidak kita inginkan. Saat mempelajari masalah ini, Facebook mendefinisikan tentang hal-hal apa yang disebut sebagai “palsu,” yaitu:

  1. Identitas palsu - hal ini terjadi ketika seseorang menyembunyikan identitas aslinya dari grup atau inpidu lain
  2. Audiens palsu - menggunakan trik untuk memperluas audiens atau persepsi dukungan atas sebuah pesan tertentu
  3. Fakta palsu - pernyataan mengenai informasi yang salah
  4. Naratif palsu - secara sengaja menggunakan judul dengan tujuan menghasut dan bahasa yang mengeksploitasi pertentangan dan konflik. Area ini dianggap yang tersulit ditangani Facebook mengingat setiap perusahaan media dan konsumen bisa memiliki pandangan berbeda tentang naratif yang dianggap pantas meski mereka pada dasarnya sepakat akan faktanya.

Di sisi lain, Facebook juga merasa perlu memahami perbedaan motif dibalik penyebaran informasi yang menyesatkan ini. Karena kemampuan Facebook  untuk memberantas setiap penyebar berita palsu adalah dengan menghalangi mereka mencapai tujuannya.  

Motif umum yang paling sering terjadi untuk grup penyebar disinformasi profesional adalah uang atau finansial. Kebanyakan informasi menyesatkan yang ada di Facebook, baik dilihat secara kuantitas maupun jangkauan, dibuat oleh grup yang secara finansial menghasilkan uang dengan mendorong trafik ke website yang mereka miliki. Ketika Facebook berhadapan dengan pelaku yang memiliki motif finansial, mereka berusaha meningkatkan biaya operasional mereka agar tercapai profit. Cara ini tidak jauh berbeda dengan cara yang telah Facebook tempuh untuk mengatasi berbagai jenis penyebar spam di masa lampau.  

Di bawah grup ini adalah orang yang berharap bisa memengaruhi debat publik. Hal ini meliputi berbagai spektrum mulai dari grup dengan tujuan pribadi atau berlandaskan ideologi bahkan bisa juga dari pegawai badan intelijen negara misalnya. Target mereka bisa warga asing maupun lokal, dan ketika banyak diskusi publik mengenai negara sudah mulai mempengaruhi debat di seluruh negara, Facebook merasa harus berjaga-jaga terhadap manipulasi domestik yang menggunakan teknik serupa.  

Informasi yang menyesatkan bisa juga disebar oleh inpidual. Mereka mungkin suka menimbulkan kekacauan dan gangguan, yang mungkin Anda sebut sebagai “jebakan” klasik internet. Mereka juga mungkin adalah pengguna yang menyebarkan berita palsu tanpa menyadari bahwa cerita atau orang yang mempostingnya bukan orang sebenarnya.  

Beberapa grup mungkin memiliki motif yang beragam - contohnya, beberapa grup yang bergerak dengan dasar ideologi dan beroperasi menggunakan dana sendiri melalui pendapatan dari iklan yang mereka buat di situs mereka.  

Di setiap negara tempat Facebook beroperasi dan dalam setiap proses Pemilu akan ada beberapa jenis pelaku yang menggunakan beragam cara untuk menjangkau audiens tertentu. Facebook senantiasa mempelajari setiap Pemilu yang akan berlangsung dan bekerja sama dengan para pakar eksternal untuk memahami keterlibatan pelaku dan risiko tertentu di setiap negara. Facebook menggunakan proses tersebut sebagai panduan utama dalam membangun tim dan melatih mereka yang lebih memahami bahasa lokal maupun kebudayaan yang ada.  

Memberantas akun Palsu

Samidh Chakrabarti, Product Manager Facebook menyoal tentang akun palsu. Dalam rilis persnya, ia memulainya dengan memaparkan upaya berkelanjutan Facebook dalam memberantas akun palsu - karena ini adalah cara yang dilakukan pelaku kejahatan untuk menyembunyikan identitas asli mereka.

election-securityelection-security

Samidh mengklaim bahwa sudah bisa memblokir hingga jutaan akun palsu setiap harinya, bahkan dari saat akun sedang dibuat sebelum mereka mendapatkan kesempatan berbuat kejahatan. Mereka bisa melakukan hal tersebut berkat mesin pembelajaran (machine learning) yang memungkinkan Facebook untuk menemukan kegiatan mencurigakan tanpa memeriksa kontennya.  

Samidh juga menyatakan bahwa Facebook kini menggunakan sebuah perangkat investigasi baru. Cara kerjanya adalah, Facebook akan  secara proaktif mencari tipe kegiatan terkait Pemilu yang mungkin berbahaya, seperti Pages yang tidak jelas asal usulnya dan menyebarkan konten publik yang tidak autentik. Jika Facebook menemukannya, mereka akan mengirimkan akun tersebut untuk ditinjau lebih jauh secara manual oleh tim keamanan untuk dilihat apakah akun tersebut melanggar Standar Komunitas atau Aturan Layanan kami. 

Jika mereka melakukan hal tersebut, Facebook akan segera menghapusnya. Seperti diungkapkan Mark Zuckerberg minggu lalu, Facebook telah menguji coba perangkat ini sejak tahun lalu saat pemilihan Anggota Senat Khusus di Alabama. Dengan mengamati campur tangan asing secara spesifik, Facebook bisa mengidentifikasi penyebar spam politik asal Macedonia dengan motivasi finansial yang sebelumnya tidak terdeteksi. Dengan cepat Facebook memblokir mereka. ARF