pulsa-logo

Asian Games 2018, Mobile eSports Makin Bersinar


Arief Burhanuddin

Rabu, 05 September 2018 • 19:31

asian games 2018, mobile esports, esports, asus, xiaomi, arena of valor, tencent


Mobile eSports Asian Games 2018 (Aryo Meidianto)Mobile eSports Asian Games 2018 (Aryo Meidianto)

Sorak sorai terdengar bergemuruh di Britama Arena-Mahaka Square, Jakarta 26 Agustus kemarin. Tim Cina yang berjuang dengan gigih berhasil mengalahkan tim Cina Taipei dalam cabang eSports Asian Games 2018. Mereka berhak menggondol medali emas ekshibisi setelah menang dalam pertarungan seru di game Arena of Valor.

Arena of Valor, game mobile bertema multiplayer online battle yang dibangun dan dipublikasikan oleh perusahaan game asal Cina, Tencent Games merupakan salah satu yang dipertandingkan di cabang eSport Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta-Palembang Agustus hingga awal September ini.

Game yang sering disingkat AoV ini merupakan permainan strategi dengan anggota tim berjumlah 5 pemain. Target permainan adalah menyusup ke wilayah musuh dan menghancurkan basisnya.

eSports saat ini memang masih menjadi cabang eksibisi alias uji coba di Asian Games. Ini berarti, medali yang diperebutkan tidak akan dicatat dalam perolehan medali resmi Asian Games. Meski demikian, eSport diproyeksikan menjadi cabang olah raga resmi di Asian Games 2022 mendatang dan medalinya juga akan diperhitungkan.

Masuknya game mobile ke cabang eSport di Asian Games ini sekaligus membuktikan betapa populernya permainan berbasis smartphone ini. Newzoo, perusahaan riset dari Belanda memperkirakan bahwa pendapatan dari industri ini secara global telah meraup angka $655 juta atau sekitar 9,6 triliun rupiah dengan kurs saat ini. Angka tersebut diperkirakan akan melonjak menjadi $1,3 miliar (sekitar 19 triliun rupiah) pada tahun 2021.

Di ajang eSport Asian games 2018, AoV bukanlah satu-satunya game mobile yang dipertandingkan. Clash Royale, game yang diproduksi dan dipublikasikan oleh Supercell juga ikut dipertandingkan di kompetisi yang juga sering disebut sebagai Olimpiade-nya Asia.

Dua game mobile tersebut melengkapi 4 game PC lainnya yang juga ikut dipertandingkan yaitu League of Legends, StarCraft 2, Heartstone, dan Pro Evolution Soccer 2018.


Tren Pergeseran Jenis Game dalam eSports

Lalu apa alasan penyelenggara untuk memasukkan game mobile ke dalam cabang eSports Asian Games 2018 ini?

"Ada pergeseran (tren) ke arah game mobile dalam eSports," kata Eddy Lim, Presiden Asosiasi eSports Indonesia seperti dikutip oleh Asian review.

"(Pembuat) game mobile telah mulai membuat game untuk kategori eSports, yang berarti hal itu membutuhkan strategi dan merupakan hal yang adil jika (keputusan) menang atau kalah didasarkan pada strategi," lanjut Eddy.

Mobile eSports lebih populer di Asia dibanding di negara-negara di kawasan lain terutama Barat. Pemicunya adalah budaya "mobile-first" yang ada di kawasan ini. Menurut laporan dari Newzoo, 55% dari pendapatan game di Asia berasal dari ponsel, hal ini kontras dengan yang terjadi di Amerika Utara dan Uni Eropa dimana pendapatan dari game mobile hanya 29%.

"Mobile esports diperkirakan akan terus tumbuh di wilayah Asia. Kami juga berharap bahwa beberapa tahun mendatang akan terjadi ledakan di pasar mobile esports di negara-negara seperti Jepang, Thailand, Indonesia dan Vietnam," tambah Newzoo dalam laporannya.

Smartphone Gaming

Tren meningkatnya mobile esport ini tak luput dari pengamatan perusahaan-perusahaan pembuat smartphone Asia. Bagai gayung bersambut, beberapa brand ternama mulai menyiapkan bahkan sudah memproduksi smartphone yang memiliki spesifikasi khusus untuk mobile gaming. Rata-rata produk smartphone untuk segmen ini memiliki prosesor highend dengan baterai yang kuat dan refresh rate layar yang tinggi.

Razer Phone, misalnya. Smartphone perdana besutan perusahaan aksesoris gaming terkemuka Razer ini hadir tahun lalu dengan mengandalkan keunggulan layarnya yang sudah mengantongi refresh rate 120Hz dengan display ultramotion.

Ditenagai oleh chipset Qualcomm Snapdragon 835, RAM 8GB dan media penyimpanan 64GB, kinerjanya juga ditopang baterai sebesar 4.000mAh. Di Asia sendiri, Razer dijual seharga USD 790 atau sekitar 11 jutaan rupiah dengan kurs saat ini.

Asus ROG Phone (hyperbeast.com)Asus ROG Phone (hyperbeast.com)

Asus juga tak mau kalah.

Smartphone gaming mereka, Asus ROG Phone langsung mencuri perhatian dengan desain agresif, spesifikasi mantab, dan serangkaian aksesoris gahar.

Asus ROG Phone mengusung refresh rate 90Hz dan dibekali dengan chipset Qualcomm Snadpragon 845 khusus dengan clock speed 2,96GHz yang merupakan yang prosesor terkencang saat ini. Perlu diketahui, standar kecepatan clock Snapdragon 845 adalah 2,8GHz, namun Asus melakukan tweaking hingga kecepatannya bertambah. RAM 8 GB dengan ruang penyimpanan maksimal 512GB membuat ROG Phone sebagai smartphone gaming dengan spesifikasi terbaik saat ini.

Xiaomi, salah satu produsen smartphone dengan pertumbuhan terbaik saat ini tak mau ketinggalan. Mereka meluncurkan smartphone gaming yang diberi nama Xiaomi BlackShark.

Xiaomi Blackshark (deccanchronicles)Xiaomi Blackshark (deccanchronicles)

Smartphone ini menyuguhkan layar 5,99 inci InCell display dengan dukungan resolusi Full HD+ (2160x1080 piksel) dengan aspek rasio layar kekinian 18:9 yang juga dilengkapi oleh dukungan DCI-P3 color gamut. Sementara teknologi kompensasi gerak cerdas MEMC memastikan kualitas gerak video jauh lebih mulus saat dipakai untuk memainkan game. Pengguna juga dapat menemukan sensor fingerprint yang menyatu pula dengan tombol fisik home.

Guna mengontrol suhu bagian dalam perangkat, handset ini menerapkan sistem pendinginan multi-lapisan yang mencakup pula substrate lakuran tembaga berdaya hantar panas tinggi, grafit nano komposit, pipa pembuang panas dan cairan pendingin yang diklaim dapat menurunkan suhu hingga 8 derajat celcius melalui peningkatan efisiensi pendinginan CPU hingga 20 kali lebih baik.

Antisipasi Produsen Game

Tren mobile gaming juga membawa keuntungan bagi produsen game konsol maupun PC. Tren ini disebut sebagai peluang terbaik mereka untuk memasuki pasar baru. Salah satu cara untuk ‘ikut nimbrung’ adalah dengan melakukan porting game yang sudah lebih dulu hadir di konsol lain ke dalam smartphone.

Strategi ini salah satunya diadopsi oleh PUBG Corp, subsidiary dari perusahaan pembuat game asal Korea, Bluehole. Tahun lalu, mereka merilis game "Player Unknown Battlegrounds" versi mobile setelah sebelumnya game yang sama sudah malang melintang di konsol dan PC.

Strategi yang sama juga dianut oleh game Fortnite. Setelah lebih dahulu hadir di  konsol dan PC, mereka kemudian merilis versi iOS-nya dan agustus ini, -meski masih eksklusif untuk beberapa tipe-, Fortnite sudah menyambangi Android.

Lebih Baik

Tampaknya ekosistem mobile gaming sudah terbentuk dan menuju arah yang benar. Produsen game, pembuat smartphone, dan penyelenggara kompetisi bahu-membahu mendukung eksistensi mobile gaming. Sementara itu, ajang kompetisi esport berfungsi untuk menciptakan standar profesional dan menjadi pemacu para atlet untuk mencapai level terbaik. Asian Games 2022 harus menjadi target utama bagi atlet Indonesia. Meski belum bisa berbicara banyak di ajang eSports Asian Games 2018 kali ini, semoga tim Indonesia bisa mencapai prestasi lebih baik di Asian Games dan kompetisi-kompetisi profesional berikutnya. @ariefburhan/berbagai sumber