pulsa-logo

Kata Acer Soal Fenomena Mobile Game


Fauzi

Kamis, 27 September 2018 • 11:09

Acer,Mobile Game


Herbet Ang, Presiden Direktur Acer IndonesiaHerbet Ang, Presiden Direktur Acer Indonesia

Acer merupakan salah satu pembesut PC yang juga fokus menggarap segmen perangkat gaming. Keseriusan Acer menggarap segmen ini, dibuktikan dengan langkah perusahaan yang terus melakukan terobosan. Di Indonesia, bisnis gaming Acer diklaim mencatatkan angka pertumbuhan pendapatan hingga 900%.

Masih soal gaming, sejatinya saat ini juga tengah booming apa yang disebut dengan mobile game. Bahkan, mobile game nampak menjadi fenomena tersendiri. Sebagai pembesut perangkat gaming, Acer pun tak luput menanggapi soal fenomena tersebut.

Herbet Ang, Presiden Direktur Acer Indonesia, mengakui bahwa mobile game menarik. Namun, menurutnya, antara mobile game dan hardcore game jelas berbeda.

”Jadi, ada games yang memang kita sebut sebagai hardcore game. Di mana hardcore game ini butuh peralatan yang bagus. Nah, berhubungan sama (peralatan) bagus, saat ini belum tersedia oleh (perangkat) mobile,” jelas Herbet di sela-sela peluncuran Predator Helios 300 Special Edition.

Sejurus dengan itu, Herbet menilai mobile game mungkin lebih masuk ke (katebori) casual gamer. Selain itu, perangkat yang digunakan untuk bermain mobile game seperti handphone bisa dibawa ke mana-mana, yang membuatnya bisa dimainkan di mana pun.

Berbeda dengan game hardcore yang biasanya dimainkan dalam tempo cukup lama, misalnya 5 jam, 6 jam, atau 7 jam.

”Nah, untuk mobile games apakah kita punya device cukup untuk main game 5-10 jam, jawabannya tidak,” ucap Herbet.


Jadi, alih-alih merasa terancam dengan merebaknya mobile game, selaku pembesut perangkat untuk game casual hingga hardcore, Acer sepertinya tidak khawatir atas hal tersebut. Menurut Herbet, baik mobile game maupun hardcore game, masing-masing punya segmen pasar tersendiri.

“Sehingga jawaban dari pertanyaannya itu adalah mobile games ada marketnya. Yang namanya enthusiast gamer, yang namanya games yang lebih hardcore itu (juga) ada marketnya. Jadi, itu adalah dua pasar yang berbeda,” tutup Herbet. (Ozi)