pulsa-logo

Penjualan Smartphone Offline Masih Tak Tergantikan


Arief Burhanuddin

Jum'at, 16 November 2018 • 09:21

mi store, penjuualan online, penjualan offline, gerai offline, vivo, ditributor


Gerai vivoGerai vivo

Industri smartphone saat ini sangat kompetitif. Para produsen smartphone berusaha menggapai lebih banyak konsumen dan memperbesar market share dengan strategi-nya masing-masing.

Banyak cara yang dilakukan produsen smartphone untuk meningkatkan penjualan, salah satunya adalah memperkuat kanal online. Strategi penjualan online yang sudah jamak kita lihat adalah dengan melakukan penjualan secara flash sale.

Demi lakunya unit, banyak gimmick ditawarkan belum lagi dengan iming-iming harga yang lebih murah dibanding saat penjualan normal, namun dengan rentang waktu dan kuota barang terbatas.

Ditambah lagi dengan strategi terbaru kini juga dilakukan oleh beberapa brand smartphone untuk mengekspansi pasar online dan meraih pasar lebih besar adalah dengan  meluncurkan sub brand yang hanya dijual secara online. Sebut saja Huawei dengan  Honornya atau OPPO dengan merek baru Realme dan Xiaomi dengan Pocophone.

Namun langkah ini sepertinya belum diikuti oleh brand lain semisal Samsung dan vivo. Menurut vivo, kultur masyarakat Indonesia menjadi salah satu alasan mengapa mereka saat ini masih fokus di pasar offline.

Saat ditanya apakah vivo akan mengikuti jejak brand lain dengan membuat merek sekunder  yang dijual secara online, pria yang akrab dipanggil Edy ini pun menjawab, “Saat ini fokus kami adalah memberikan produk berkualitas pada konsumen dan memenuhi kebutuhan smartphone mereka dengan produk Vivo yang ada di pasaran. Kami sadar bahwa kami masih perlu mengembangkan  dan membangun pasar yang lebih kuat dengan rekan-rekan bisnis yang ada sekarang.” 



Konsentrasi di Gerai Offline

Meski penjualan smartphone melalui e-commerce makin gencar, namun keberadaan gerai-gerai penjual smartphone tetap menjadi pilihan utama konsumen. Salah satu hal mendasar mengapa konsumen Indonesia saat ini masih mempercayai toko fisik adalah karena kebiasaan interaktif yang ada di masyarakat kita.

Konsumen di Indonesia cenderung masih perlu merasakan langsung barang yang hendak ia beli, melihat sendiri dan memegang secara fisik. Selain itu, komunikasi antar penjual dengan pembeli juga masih diperlukan, terutama jika konsumen membutuhkan bantuan teknis seperti pengaturan awal atau panduan pemakaian. Fakta ini juga diamini oleh Vivo, salah satu produsen smartphone terkemuka di tanah air.

“Vivo sejak awal memulai bisnis smartphone dengan membangun kerjasama bersama toko retail. Kami bisa berada pada posisi 4 besar di Indonesia saat ini, tentunya tidak lepas dari dukungan dari para partner distributor yang setia bersama kami. Saat ini, kami memiliki kurang lebih 10.000-an retail partners di seluruh Indonesia yang menjadi rekan kami di pasar offline,”  ujar Edy Kusuma, General Manager for Brand and Activation PT Vivo Mobile Indonesia. 

Edy Kusuma juga menambahkan bahwa rekan-rekan bisnis kami merupakan mitra terpenting. Ke depan, Kami terus berusaha untuk berkembang dan maju bersama mereka.

Produk-produk andalan Vivo Indonesia yang saat ini masih kuat di pasaran offline adalah Vivo V-series dan Vivo Y-series. Edy juga menambahkan bahwa untuk bisa mencapai tujuan tersebut, kerjasama yang kuat dan hubungan yang baik dengan mitra-mitra distributor adalah salah satu faktor utama yang akan terus dijaga. 

Alasan Konsumen Belanja di Gerai

Hendro (27), seorang teknisi asal Purwokerto terlihat bergegas masuk ke gerai penjualan smartphone yang cukup besar di kotanya. Ia sudah mantap hendak membeli smartphone incarannya dengan uang yang telah ditabung dari beberapa bulan lalu.  Setelah menimang-nimang sebentar, transaksi pun terjadi dan smartphone impian sudah berada di tangan.

“Saya lebih suka beli di gerai Mas,” Ujar Hendro kepada PULSA. “Kayaknya lebih mantab datang langsung ke gerai, bisa tahu barang langsung dan after salesnya juga lebih mudah,” Lanjutnya.

Lain lagi dengan Imam Bukhori (24), seorang programmer yang tinggal di Bekasi.  Sama seperti Hendro, gerai smartphone masih menjadi tujuan utama saat hendak berganti ponsel pintar. “Selama ini Saya beli smartphone selalu offline. Sudah 3 smartphone Saya beli dari Gerai,” papar Imam.

Imam menyatakan bahwa ia masih belum terlalu ‘pede’ untuk membeli smartphone secara online. “Kadang ada rasa khawatir kalau beli online, lagian di gerai offline lebih cepat, langsung kasih duit terus sudah bisa bawa pulang smartphone”, Lanjutnya.

Alasan lain mengapa Imam lebih suka belanja offline karena bisa melihat fisik barang secara langsung dan membandingkannya. “Feelnya dapat kalau di gerai,” Tambah Imam.

Masih Meyakinkan

Pasar offline belum tergantikan. Setidaknya hal itu ditopang dengan kebiasaan masyarakat yang masih belum bisa lepas dengan interaksi fisik  saat membeli smartphone. Meski banyak vendor gencar berstrategi memperluas kanal onlinenya, namun memperkuat pasar  offline tetap harus dilakukan jika tidak ingin kehilangan konsumen.

Memperbanyak gerai, memperbaiki layanan dan purna jual bisa menjadi langkah utama yang harus dipikirkan oleh vendor smartphone untuk terus memperbesar market share mereka. PULSA melihat bahwa kemitraan yang baik dengan distributor menjadi hal yang penting untuk mencapai 3 hal di atas. Dan jangan lupakan juga kultur masyarakat Indonesia saat ini yang masih suka berinteraksi di pasar offline. (*)