pulsa-logo

DT Index Ungkap, Indonesia Masuk Kategori Adopsi Digital


Aldrin Symu

Jum'at, 23 November 2018 • 12:39

Dell EMC, DT Index, Paul Henaghan,


Menurut Indeks Transformasi Digital Dell Technologies (DT Index), hanya 6% bisnis di Indonesia masuk dalam kategori Pemimpin Digital. DT Index, riset yang dilakukan bekerja sama dengan Intel, memetakan kemajuan transformasi digital yang dilakukan perusahaan-perusahaan skala menengah hingga besar dan mengkaji harapan dan kekhawatiran digital dari para pemimpin bisnis tersebut. Studi ini mengungkapkan bahwa 57% pemimpin bisnis di Indonesia percaya perusahaan mereka akan kesulitan memenuhi tuntutan pelanggan yang terus berubah dalam jangka lima tahun ke depan dan 27% khawatir mereka akan kalah bersaing.

Hasil DT Index ini berdasarkan pendapat perusahaan-perusahaan tersebut tentang kinerja mereka dalam beberapa bidang berikut: memiliki kinerja baik berdasarkan faktor-faktor penting dari sebuah bisnis digital**, strategi TI yang ada, strategi transformasi tenaga kerja dan investasi yang direncanakan perusahaan-perusahaan tersebut.

Dua tahun setelah DT Index pertama diluncurkan tahun 2016, tahun ini Dell Technologies dan Intel memperluas cakupan riset ini hingga lebih dari dua kali lipat, dari 16 negara menjadi lebih dari 40 negara dan membandingkan 4.600 bisnis.

Meskipun DT Index mencatat ada beberapa yang masuk dalam kategori Pemimpin Digital, lebih dari seperempat responden di Indonesia masuk dalam kategori Adopsi Digital, yang artinya perusahaan-perusahaan tersebut telah memiliki rencana dan inovasi digital yang cukup matang untuk melaksanakan rencana transformasi mereka. Namun demikian, perusahaan perlu mempercepat rencana transformasi mereka. Sebagian besar responden berada di kategori Evaluator Digital, yang artinya masih banyak sekali perusahaan yang masih mempertimbangkan atau bahkan menunda melakukan apa pun. Sebanyak 27% perusahaan di Indonesia berada di dua kategori terbawah, yaitu perusahaan-perusahaan yang bergerak terlalu lambat atau bahkan tidak memiliki rencana digital sama sekali.

Hambatan Transformasi Digital

Berdasarkan hasil DT Index, 94% perusahaan di Indonesia mengakui mereka menghadapi hambatan besar dalam melakukan transformasi digital saat ini.

Lima hambatan teratas adalah kekhawatiran akan privasi data dan keamanan siber, kurangnya anggaran dan sumber daya, peraturan atau perubahan legislatif, kurangnya teknologi yang tepat untuk digunakan sesuai kecepatan yang dibutuhkan bisnis tersebut serta kurangnya tenaga dan pengalaman yang tepat di dalam perusahaan


Semua rintangan tersebut memperlambat laju usaha transformasi digital. Misalnya, 84% pemimpin perusahaan di Indonesia percaya transformasi digital harus diterapkan secara menyeluruh di perusahaan. Oleh karena itu, hanya 4% yang menyatakan bahwa mereka akan menjadi pelopor perubahan bukan hanya menjadi pengikut dalam jangka lima tahun ke depan.

“Kita sudah sering mengatakan kalau kita saat ini berada di titik puncak perubahan besar, tapi situasi sudah berubah,” ujar Paul Henaghan, Vice President, Data Center Solutions, Asia Pacific & Japan, Dell EMC. “Era digital berikutnya telah tiba dan telah mulai menata ulang cara kita hidup, bekerja dan melakukan bisnis. Artinya, waktu sangatlah penting. Transformasi yang sebenarnya harus terjadi sekarang dan terjadi secara radikal.”

Mengatasi Tantangan

Riset ini mengungkapkan bahwa berbagai perusahaan di Indonesia telah mulai mengambil langkah-langkah penting untuk mengatasi hambatan yang mereka alami, termasuk ancaman kalah berkompetisi dengan pesaing yang lebih gesit dan inovatif.

“Saat ini adalah waktu yang sangat menarik untuk berbisnis. Kita berada di persimpangan penting – yaitu, dimana teknologi, bisnis dan manusia bertemu untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih terhubung,” tambah Catherine Lian, Managing Director, Dell EMC Indonesia. “Namun demikian, hanya perusahaan-perusahaan yang fokus menggunakan teknologi yang akan meraih manfaat yang ditawarkan model bisnis digital, termasuk kemampuan untuk bergerak cepat, mengotomatisasi semua hal dan memenuhi tuntutan pelanggan. Itulah kenapa transformasi digital harus menjadi prioritas nomor satu.”