pulsa-logo

Pabrikan Smartphone asal Cina ini di Ambang Kebangkrutan, Gara-gara Judi?


Nariswari

Kamis, 29 November 2018 • 18:43

Pabrikan Smartphone asal Cina ini di Ambang Kebangkrutan, Gara-gara Judi?


Gionee S10 LiteGionee S10 Lite

Masih terhitung bulan, sejak akhir Desember 2017 lalu Gionee menyambangi tanah air, kini beredar informasi yang miris bahwa perusahaan smartphone asal Cina tersebut dikabarkan tak lagi sanggup membayar utang kepada para supplier.

Saat ini Gionee dilaporkan tengah  berada di ambang kebangkrutan setelah berhutang sangat banyak kepada lembaga keuangan, beberapa pemasok, perusahaan biro iklan dan perusahaan pemasaran. Total utang yang dibabankan di Gionee adalah  sekitar CNY17 miliar (sekitar USD$ 2,45 miliar).

Dalam sebuah pertemuan antara perwakilan perusahaan dan pemasok, Gionee dikabarkan  telah mencapai kesepakatan dengan pemasok utama untuk pelunasan hutang, tetapi hampir 400 perusahaan kecil belum mendengar apa pun terkait dengan pelunasan hutang Gionee yang harus dibayarkan ke mereka. Jika restrukturisasi bukan pilihan yang tepat, maka mau tidak mau Gionee akan masuk ke dalam perusahaan yang ter- likuidasi alias bangkrut.

Media lokal China, Beijing Youth Daily menulis bahwa pertemuan itu terjadi setelah 20 pemasok besar mengajukan gugatan ke Pengadilan Rakyat Shenzhen-China untuk menuntut pembayaran utang dari Gionee  yang  sudah lewat dari batas tempo pembayaran hutang. Gionee dinilai tidak menunjukkan itikad baik untuk membayar utang tepat waktu ke banyak pemasok.  Para mitra pun akhirnya  kehilangan kepercayaan pada pabrikan ponsel pintar China tersbeut, dan  akhirnya menggugat  Gionee ke Pengadilan Rakyat Shenzhen.

Liu Lirong (CEO Gionee)  mengatakan dalam pembelaannya bahwa perusahaannya  adalah satu-satunya sumber pendapatan dan tidak dapat dihindari bahwa memang dalam menjalankan bisnis,  akan ada beberapa “kegiatan publik” yang  didanai oleh perusahaan. Namun saat memberikan keterangan tersebut, Liu Lirong tidak menyebutkan secara eksplisit terkait “kegiatan publik” apa yang dimaksud.

Kabar lain yang diperoleh  dari media lokal di China menyebutkan bahwa CEO Gionee tersebut memiliki utang perjudian sekitar CNY 10 miliar, yang kemudian diakui hanya 1 milyar. Entah kerugian operasi apa yang dilakukan oleh Liu Lirong, tentunya berdampak pada Gionee.

Meskipun perusahaan ini jelas sudah berada di  ujung tanduk, namun smartphone Gionee  masih  dijual bebas di seluruh dunia, baik secara online dan pengecer offline. Pengecer mengatakan kepada media publikasi di China  bahwa smartphone Gionee M7 masih merupakan perangkat yang paling laris dibeli oleh konsumen, dan mereka akan terus mengeluarkan garansi standar sampai unit smartphone tersebut  terjual habis. (*)


Sumber: Chinanews via GSMArena