pulsa-logo

Kecanduan Game Fortnite Banyak Remaja Terpaksa Direhabilitasi


Nariswari

Jum'at, 14 Desember 2018 • 11:32

Kecanduan Game Fortnite Banyak Remaja Terpaksa Direhabilitasi


gam Fortnitegam Fortnite

Game Fortnite yang ber-genre battle royal besutan Epic Game, kini tegah naik daun. Setidaknya ada lebih 23 juta gamers di seluruh dunia telah menikmati game tersebut.  Game ini memiliki cara bermain yang hampi sama dengan PUBG.

Sayangnya, di balik reputasinya yang sudah besar berkat popularitasnya di perangkat smartphone, PC dan konsol, kini muncul masalah yang cukup serius. Kawula  muda menjadi sangat kecanduan memainkan game Fortnite sehingga mereka terpaksa dirujuk ke panti rehabilitasi.

Menurut sebuah penelitian, 61% remaja Amerika memainkan game Fortnite. Angka presentase ini  dengan jelas menunjukkan popularitas yang luar biasa dari game perang dan strategi ini.  Maka tidak heran kemudian muncul efek negative dari game populer ini.  

Tidak sedikit dari gamer Fortnite yang telah menjadi sangat kecanduan game ini sehingga orang tua  dan wali mereka, memutuskan untuk mengirim anak-anak mereka ke panti rehabilitasi untuk menjalani program detoksifikasi dari kecanduan “khusus” seperti kecanduan main game.

Sebuah kabar terbaru yang disampaikan oleh Bloomberg beberapa hari yang lalu menyebutkan bahwa ada kasus kecanduan game Fortnite yang sangat parah yang menimpa putra Debbie Vittany, bernama Carson (17 tahun).

Carson di usianya yang masih remaja, lebih memilih menghabiskan 12 jam sehari hanya untuk main game ini. Debby sudah melakukan berbagai cara untuk mengurangi kecanduan Carson pada Fortnite. Mulai dari pengurangan jatah waktu main Fortnite, memberikan saran berulang-ulang, tapi Carson tetap bergeming dan kecanduannya semakin parah.

Kecanduan game ini jelas memiliki konsekuensi yang nyata, guru Carson mengeluh tentang Carson yang sering mengantuk di kelas dan kualitas hasil pelajarannya yang menurun tajam. Ironisnya, Debbie bukanlah satu-satunya orang tua yang bermasalah dengan anak-anak muda pecandu Fortnite. Sangat banyak orang tua lain  dan guru lainnya yang telah melaporkan kasus serupa.


Lorrine Marrer (Psikiatri dan Peneliti Behavioral Studies dari Inggris) mengatakan bahwa tingkat efek kecanduan game ini tak ubahnya seperti heroin. Lorrine Marrer selama bertahun-tahun melakukan penelitian dan  membuka konseling serta terapi  untuk anak-anak yang kecanduan game.

Hal senada juga diungkapkan oleh Randy Kulman (Psikolog Anak di Rhode Island) yang mengatakan bahwa makin banyak orang tua yang membawa anak-anak mereka untuk terapi dan konseling, karena kecanduan game.   Bahkan dia mengatakan salah satu pasiennya adalah anak berusia 13 tahun yang kecanduan main Fortnite, dan sulit sekali “diinterupsi” saat sedang main game.

Lalu bagaimana jika kasus ini menimpa Anda atau bahkan anak-anak Anda? Apa solusi terbaik yang harus Anda lakukan?

Tidak ada lain,  kirim anak-anak Anda ke pusa rehabilitasi dan psikolog. Kecanduan terhadap video game memang masih  fenomena baru, karena penelitian telah mempelajari subjek ini hingga sekarang. Ini tentu saja menimbulkan pertanyaan "siapa yang akan mengendalikan mereka” “ Apakah game tersebut bisa mengontrol pikiran pemainnya?

Ini sedikit mirip dengan situasi yang mungkin pernah Anda alami pada tahun 2000-an, era  di mana beberapa siswa SMA lebih suka melewatkan satu hari penuh di warnet. Ini mungkin juga terjadi di ruang permainan arcade pada 1980-an dan 1990-an. Perbedaannya bukan hanya pada tingkat kecanggihan game dan aplikasinya, namun muncul fakta  bahwa kecanduan main game telah menjadi strategi komersial yang diadopsi secara sosial.

Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan kecanduan main game sebagai kategori  yang disebut “Gaming Disorder". Ini diterjemahkan sebagai kategori  penyakit untuk pertama kalinya pada bulan Juni 2018. Dan merupakan sebuah langkah besar bagi tiap orang tua di seluruh dunia untuk waspada, dan secara sigap mencari  pertolongan dari efek kecanduan main game  di anak-anak mereka. (*)

Sumber: Bloomberg