pulsa-logo

Apa Itu Industri 4.0


Aldrin Symu

Kamis, 27 Desember 2018 • 16:03

industri 4.0, techno,


image: wikipedia.org

Kementerian Perindustrian telah merancang Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah ‘road map’ yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era Industri 4.0. Guna mencapai sasaran tersebut, dibutuhkan langkah kolaboratif yang melibatkan beberapa pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintahan, asosiasi dan pelaku industri, hingga unsur akademisi. Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan era Industri 4.0 dan hubungannya dengan Making Indonesia 4.0 ? Berikut sedikit penjelasannya.

Konsep Revolusi Industri 4.0

Konsep revolusi industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab. Ekonom terkenal asal Jerman yang menulis dalam bukunya, “The Fourth Industrial Revolution”. Istilah Industri 4.0 ini sebenarnya berhubungan dengan sejarah atau perjalanan revolusi industri yang kini memasuki fase ke 4.

Revolusi industri pertama terjadi pada akhir abad ke-18 yang ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Banyak orang menganggur tapi produksi diyakini berlipat ganda.

Kemudian revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Kala itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Lini produksi pertama melibatkan rumah potong hewan di Cincinnati, Amerika Serikat, pada 1870. Pada awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri 3.0. Revolusi ini dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Revolusi industri generasi ketiga ini juga ditandai dengan munculnya pengontrol logika terprogram pertama (PLC modem 084-969). Sistem otomatisasi berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia. Dampaknya memang biaya produksi menjadi lebih murah.

Dan sekarang, zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi yang mencakup sistem cyber-physical, internet of things (IoT), cloud computing (komputasi awan) dan komputasi kognitif.


Industri 4.0

Awal mula istilah Industrie 4.0 dikaitkan dengan proyek strategi teknologi canggih yang mengutamakan komputerisasi pabrik. Istilah ini kembali diangkat di Hannover Fair pada tahun 2011. Pada Oktober 2012, Working Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Industri 4.0 kepada pemerintah federal Jerman. Akhirnya anggota kelompok kerja Industri 4.0 diakui sebagai bapak pendiri dan perintis Industri 4.0.

Ada empat prinsip rancangan dalam Industri 4.0 yaitu interoperabilitas (kesesuaian), IoT, transparansi informasi, bantuan teknis dan keputusan mandiri. Prinsip-prinsip ini membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengimplementasikan skenario-skenario Industri 4.0.

Image: aethon.com

Interoperabilitas terkait dengan kesesuaian kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi satu sama lain lewat IoT atau IoP (Internet untuk khalayak). Kemudian IoT/IoP akan mengotomatisasikan proses ini secara besar-besaran. Sementara transparansi informasi berhubungan dengan kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor. Prinsip ini membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks bernilai tinggi. Sedangkan bantuan teknis memberikan kemampuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Akhirnya, keputusan mandiri memberikan kemampuan sistem fisik cyber untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan atau ada tujuan yang berseberangan, tugas didelegasikan ke atasan.

Image: sightmachine.com

Implementasi industry 4.0 tidak hanya memiliki potensi luar biasa dalam merombak aspek industri, bahkan juga mampu mengubah berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Untuk itu, dalam menghadapi Industri 4.0 tersebut, Indonesia menetapkan ‘Making Indonesia 4.0’ yang diawali dengan meningkatkan  kompetensi  sumber daya manusia melalui program link and match antara pendidikan dengan industri. Upaya ini dilaksanakan secara sinergi antara Kemenperin dengan kementerian dan lembaga terkait seperti  Bappnas,  Kementerian BUMN,  Kementerian Ketenagakerjaan, Kemeneterian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Dengan menerapkan Industri 4.0, diharapkan Indonesia mampu menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030.

Salah satu strategi Indonesia memasuki Industri 4.0 adalah menyiapkan 5 (lima) sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan untuk memperkuat fundamental struktur industri Tanah Air. Adapun kelima sektor tersebut, yaitu Industri Makanan dan Minuman, Industri Otomotif, Industri Elektronik, Industri Kimia, serta Industri Tekstil.

Dikutip dari berbagai sumber