pulsa-logo

Mengenal Apa Itu 'Chatterbot'


Aldrin Symu

Senin, 14 Januari 2019 • 17:11

chatterbot, chatbot, techno,


Sejak kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin atau sistem, pengembangannya kini semakin melebar. Tujuan utama kecerdasan buatan pada awalnya adalah agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia.

Dalam perkembangannya, kecerdasan buatan mampu menghasilkan sistem percakapan otomatis. Kini perusahaan-perusahaan sudah menggunakan sitem tersebut untuk membantu 'call center' memberikan panduan kontak. Kecerdasan buatan untuk percakapan ini disebut Chatterbot atau Chatbot.

Kini, Chatterbot bahkan sudah dimplementasikan pada jejaring sosial, seperti Twitter dan Windows Live Messenger. Bahkan portal online populer seperti eBay dan PayPal juga menggunakan agen virtual multi bahasa untuk memudahkan penggunanya. Sebagai contoh, jika Anda ingin informasi cepat tentang kondisi cuaca saat ini, Anda dapat memulai percakapan dengan bot yang relevan dan akan menyediakan prakiraan cuaca seketika. Disinilah Anda telah berinteraksi dengan 'chatbot'.

image: blog.ubisend.com

Sejarah Chatterbot

Chatterbot (chatbot) adalah sebuah program yang dirancang untuk menstimulasi percakapan intelektual dengan satu atau lebih manusia baik secara audio maupun teks. Meskipun banyak bots yang tampaknya dapat menginterpretasikan dan menanggapi input manusia, sebenarnya bots tersebut hanya memindai kata kunci dalam input dan membalasnya dengan kata kunci yang paling cocok, atau pola kata-kata yang paling mirip dari basis data tekstual.


Istilah 'Chatterbot' sendiri pertama kali dikemukakan oleh Michael Mauldin (pencipta verbot pertama, Julia) pada tahun 1994 untuk mendeskripsikan program percakapan. Sebelumnya, Alan Turing mempublikasikan artikel 'Computing Machinery and Intelligence' yang mengemukakan tes Turing sebagai suatu kriteria kecerdasan. Kriteria ini bergantung pada kemampuan program komputer untuk meniru manusia dalam suatu percakapan tertulis pada waktu nyata (real time) dengan manusia sebagai penilai. Pengujian ini terkait dengan minat Turing terhadap ELIZA, program yang dipublikasikan oleh Joseph Weizenbaum pada tahun 1966, yang dapat mengelabui pengguna hingga mempercayai bahwa mereka sedang bercakap-cakap dengan manusia nyata.

Kunci metode operasional ELIZA (dicontoh oleh perancang chatterbot hingga kini) melibatkan rekognisi dari isyarat kata-kata atau kalimat pada input dan output berupa tanggapan yang telah dipersiapkan atau diprogram, yang dapat meneruskan percakapan dengan suatu cara sehingga tampak bermakna.

image: slideshare.net

Pengembangan Chatterbot

Dengan antarmuka yang lebih terlihat nyata, chatterbot dibuat dapat menafsirkan output dan menghasilkan percakapan yang seperti nyata dengan pola sederhana. Banyak orang lebih memilih berkonsultasi dengan program yang menyerupai manusia ini, dan hal ini memberikan chatterbot ruang untuk berkembang dalam fungsi-fungsi sistem interaktif dalam memberikan informasi pada penggunanya. Bahkan teknik chatterbot kini memberikan kesan 'ramah' pada antarmuka dibandingkan dengan sistem menu bantuan formal.

Bots yang nyata mendeskripsikan fenomena ini contohnya Depression 2.0, yaitu chatterbot dengan program komputer berdasar pada model-model teori ilmu psikologi yang dapat memberikan solusi masalah psikologis pada penggunanya. Beberapa chatterbot terbaru juga mengkombinasikan pembelajaran waktu nyata dengan algoritma evolusioner yang mengoptimalkan kemampuan komunikasi berbasis percakapan.

image: bbntimes.com

Chatterbot Berbahaya

Sebagai penyedia pencarian terbesar di dunia, Google bisa membawa teknologi bot kepada sesuatu yang baru. Bahkan, Anda mungkin telah menggunakan salah satu layanan Google yaitu Google Now. Kemungkinan Google bakal menyajikan solusi ini untuk pengembang, yang memungkinkan mereka untuk menggunakan alat-alat pencarian Google di chatbot mereka sendiri. Ini adalah sebagian contoh chattbot yang membawa efek positif.

Selalu ada efek negatif dari sesuatu, demikian juga halnya Chatterbot. Chatterbot dapat juga digunakan untuk mengisi ruang chatting dengan spam dan iklan. Bahkan chatterbot dapat digunakan untuk mengungkapkan informasi pribadi orang lain seperti nomor rekening bank misalnya. Mereka pernah ditemukan pada Yahoo Messenger, Windows Live Messenger, AOL Instant Messenger dan protokol instan messaging lain. Bahkan ada laporan keberadaan chatterbot dengan iklan pribadi palsu pada website layanan kencan.

Di awal tahun 2016 Microsoft sempat meluncurkan chatbot dengan artificial intelligent yang diberi nama 'Tay'. Chatbot ini dihubungkan dengan Twitter, sehingga chatbot tersebut bisa merespon orang ketika ada yang melakukan mention terhadap dirinya. Namun, dalam waktu kurang dari 24 jam, chatbot tersebut malah berubah menjadi chatbot dengan berbagai respon yang kasar dan rasis. Akhirnya Microsoft membuat pernyataan minta maaf secara resmi atas ketidaknyamanan yang terjadi dan mematikan chatbot tersebut. Sayangnya Microsoft tidak menjelaskan detil kesalahan seperti apa yang akhirnya membuat Tay menjadi seperti itu.

Dikutip dari Wikipedia dan berbagai sumber