pulsa-logo

Pertama Kalinya, Penjualan Smartphone Global Turun!


Arief Burhanuddin

Rabu, 06 Februari 2019 • 17:09

apple. huawei, samsung, pasar smartphone, penjualan smartphone


Penjualan smartphone turun 4 persen dari sebelumnya 1.558,8 unit pada 2017 menjadi 1.498,3 juta unit pada tahun 2018.

Tren penjualan smartphone dunia saat ini menunjukkan fenomena yang berbeda. Untuk pertama kalinya di tahun 2018 lalu, penjualan smartphone mengalami penurunan. Menurut Counterpoint Research, ada penurunan sekitar 4 persen dari 1.558,8 juta pengiriman unit pada 2017 menjadi 1.498,3 juta unit pada tahun 2018.

Penurunan tertajam justru terjadi pada kuartal keempat atau terakhir tahun 2018 dimana pengiriman smartphone turun hingga 7 persen. Jika dirunut, ini menjadi kuartal kelima berturut-turut penurunan smartphone.

Jika dilihat detil per vendor, Samsung masih memiliki market share sebanyak 19 persen, diikuti oleh Apple dan Huawei yang sama-sama menguasai 14 persen pasar. Di belakang ketiganya, ada Xiaomi yang menguntit dengan menguasai 8 persen pasar global.

Tarun Pathak, Associate Director di Counterpoint Research mengatakan, "Penurunan pengiriman smartphone dapat dikaitkan dengan siklus pergantian di pasar maju seperti AS, Cina dan Eropa Barat."

Meskipun produsen smartphone mencoba untuk mendongkrak penjualan dengan menambahkan fitur-fitur seperti Fullview display, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), menambahkan jumlah dan fitur kamera serta teknologi pemindai sidik jari di layar, namun konsumen tetap bertahan dengan smartphone tua mereka. Dengan demikian, konsumen juga mengabaikan terobosan-terobosan yang dilakukan para vendor dengan mempertimbangkan pula harga yang semakin tinggi.

Perusahaan-perusahaan pembuat smartphone asal Cina seperti seperti Huawei, OPPO dan Vivo terus mendominasi pasar di negaranya sendiri. Mereka juga menguasai India, Asia (termasuk Indonesia) dan beberapa Negara di Eropa. Sementara pembuat smartphone papan atas seperti Apple dan Samsung harus menghadapi kenyataan bahwa permintaan pasar terhadap smartphone premium mereka mulai turun. Di sisi lain, vendor-vendor Cina juga mulai menekan mereka dengan smartphone-smartphone berspesifikasi mumpuni namun dengan harga yang lebih terjangkau.


Analis Riset Shobhit Srivastava mengatakan, "Pertumbuhan pengiriman smartphone secara kolektif di negara-negara berkembang seperti India, Indonesia, Vietnam, Rusia dan lainnya tidak cukup untuk mengimbangi penurunan di Cina, yang bertanggung jawab atas hampir sepertiga dari pengiriman smartphone global di tahun 2018."

Dengan pertumbuhan luar biasa di India, Xiaomi telah mencapai rekor posisi keempat selama setahun penuh dan telah berhasil melampaui OPPO secara global. Di Indonesia kejadiannya juga hamper sama. Xiaomi merangsek sebagai produsen nomor 2 menggeser nama-nama yang sudah settle sebelumnya seperti OPPO, Asus, dan Vivo (data IDC Q2 2018).

Laporan Counterpoint Research juga melampirkan catatan bahwa grup BBK yang memiliki merek smartphone OPPO, Realme, Vivo dan OnePlus secara kolektif merupakan produsen smartphone terbesar ketiga di dunia, bahkan lebih besar dari Huawei dalam untuk urusan volume penjualan.

Huawei

Sementara itu menurut data IDC terbaru, Huawei telah mengapalkan smartphone dengan jumlah hampir sama dengan yang dikapalkan Apple pada tahun lalu.

Huawei menutup tahun 2018 dengan mengunci peringkat ketiga untuk pangsa pasar smartphone global, setelah mengirim 200,06 juta unit smartphone pada tahun 2018, atau naik 33,6% dari tahun sebelumnya. Angka itu tepat di belakang Apple yang menduduki nomor dua setelah mencatatkan pengiriman iPhone sebanyak 200,08 juta unit. Berbanding terbalik dengan Huawei yang mengalami kenaikan penjualan, Apple malah mengalami penurunan penjualan sebesar 3,2%  dibanding tahun 2017.

Pasar Cina

Laporan terbaru dari Country Share Tracker (CST), menunjukkan bahwa pengiriman ponsel pintar di Cina anjlok 11% pada kuartal terakhir 2018 hingga mencapai 108 juta unit.

Menurut Neil Mawston, direktur eksekutif strategi perangkat nirkabel di Strategy Analytics, penurunan pada kuartal keempat sangat kontras dibanding angka 121 juta unit yang dikirim pada kuartal yang sama tahun 2017. Ia menghubungkan penurunan ini dengan apa yang ia sebut sebagai resesi di pasar smartphone dengan mengacu pada penurunan penjualan selama lima kuartal berturut-turut.

“Pasar smartphone mengalami siklus penggantian yang lambat dan kemampuan belanja konsumen yang lemah. Tahun lalu sangatlah sulit dan salah satu yang ingin dilupakan oleh pelaku industri smartphone,” komentarnya.

Sisi baiknya, Huawei mengirim 30 juta smartphone dengan mencatat penigkatan sebesar 28% di pasar Cina pada kuartal terakhir 2018. Dengan pertumbuhan tahunan sebesar 23%, Mawston memperkirakan keberhasilan Huawei karena "portofolio produk yang kuat, merek yang terkenal dan saluran ritel yang luas."

OPPO mengambil tempat kedua pasar smartphone Cina dengan market share sebesar 21%. Meskipun mengalami penurunan pengiriman sebesar 2%, pasar OPPO terus tumbuh.

Tempat ketiga diduduki oleh VIVO dengan mengambil 21% dari pasar smartphone Cina. Angka ini berselisih tipis dengan yang dicapai OPPO.

Apple yang kinerjanya tidak terlalu baik akhir-akhir ini bertengger di tempat keempat dengan menguasai 10% pangsa pasar smartphone Cina pada kuartal ke empat 2018. Penjualan iPhone turun 22% dibanding tahun sebelumnya – mencatatkan kuartal terburuk bagi vendor ikon Amerika tersebut sejak awal 2017. Dari 12 kuartal terakhir, penjualan iPhone diantaranya turun di 8 kuartal. Mawston mengatakan bahwa Apple dalam bahaya jika tidak bisa menentukan harga iPhone di Cina.

Xiaomi menempati posisi 5 besar dengan pangsa pasar 9% pada Q4 2018. Pertumbuhan sebelumnya yang kuat di pasar dalam negeri telah terhenti dan penjualannya merosot hingga 35% dibanding tahun sebelumnya. Xiaomi menderita akibat banyaknya stok yang masih tertimbun, ditambah tekanan ketat dari saingannya sepereti Huawei dan Vivo. @ariefburhan, berbagai sumber