pulsa-logo

Sub Brand, Senjata Baru Vendor Smartphone


Arief Burhanuddin

Rabu, 20 Februari 2019 • 20:13

iqoo, xiaomi, redmi, poco, vivo, oppo, realme


Vivo, Salah satu brand smartphone terkenal asal Cina awal bulan Februari ini ditengarai telah membuat sub brand baru yang diberi nama iQoo. Sebuah akun Weibo (twitternya Cina) dengan nama iQoo menyapa dunia maya dengan cuitan, “Hello, this is iQoo.” Akun Weibo buru-buru me-repost status tersebut dengan menyebut iQoo sebagai “new friends” alias teman baru.

Meski tak secara langsung menyebut iQoo sebagai sub brand alias merek turunan mereka, namun akun Weibo iQoo terdaftar atas nama korporasi Vivo.

Jika benar langkah yang diambil Vivo tersebut, maka pemilik market share nomor 4 terbesar di Indonesia versi IDC ini telah beranjak mengikuti jejak vendor-vendor Cina lainnya seperti Huawei, OPPO, dan Xiaomi dengan membuat merek turunan. Asumsi yang beredar, langkah ini merupakan upaya vendor-vendor tersebut untuk memperkuat kehadiran mereka di pasar dengan memperketat kompetisi dan memperluas jangkauan segmen.

Sub brand telah menjadi strategi populer yang dianut oleh brand-brand khususnya yang berasal dari Cina untuk memikat segmen baru tanpa ‘mengganggu’ merek yang sudah ada sebelumnya. Diantara merek Cina terkemuka sepert Huawei, Oppo, dan Xiaomi, maka hanya Vivolah yang hingga saat ini belum memiliki merek turunan, padahal menurut penelitian perusahaan periset Counterpoint, Vivo duduk di peringkat ketiga sebagai pemegang merek smartphone terlaris di Cina.

"Sub brand dapat membantu mengisi kesenjangan di perusahaan induk," ujar Direktur Riset Counterpoint James Yan kepada TechCrunch. "Saya pikir iQoo adalah merek yang lahir untuk pasar yang tertarik dengan game, kanal penjualan online, atau konsumen muda, mirip dengan apa yang dilakukan Huawei dengan Honor-nya."

Huawei memperkuat posisinya sebagai jawara smartphone di Cina dengan memainkan strategi dual brand. Merek turunannya, Honor bermain di segmen menengah sementara merek utamanya, Huawei tetap konsen dengan konsumen level atas. Oppo yang notabene masih memiki ‘ikatan kerabat’ dengan Vivo (kedua merek tersebut berada di bawah satu holding yaitu BKK), tahun lalu menghadirkan sub brand Realme yang eksklusif dipasarkan secara online untuk menghadang agresivitas Xiaomi Redmi di India. Xiaomi bereaksi dengan meluncurkan seri Poco untuk pasar kelas atas di India dan Indonesia. Terakhir, mereka malah menyapih Redmi sebagai sebuah brand yang mandiri.


Di saat penjualan smartphone mengalami kelesuan tahun lalu, langkah ini setidaknya memberi alternatif bagaimana vendor dapat bertahan sekaligus memperluas market mereka.

Seperti diketahui, penjualan smartphone yang bertahun sebelumnya mengalami peningkatan telah berakhir pada tahun 2018. Menurut Counterpoint, persentase pengapalan smartphone turun hingga dua digit di kisaran 11 persen di tahun 2018. Menurut survei, penurunan ini dipicu oleh sikap konsumen yang pragmatis dan tidak serta merta mengganti smartphone mereka meskipun vendor menawarkan teknologi-teknologi baru.

Selain menawarkan alternatif brand kedua, vendor di awal tahun ini juga terlihat mulai melakukan inovasi yang signifikan. Jika tahun lalu kita hanya melihat desain poni yang cenderung seragam, teknologi AI di kamera dan warna-warna gradasi, maka tahun ini diharapkan konsumen bisa mendapatkan pilihan teknologi yang lebih beragam.

Mereka kemungkinan sudah bisa membeli smartphone dengan desain punch hole seperti yang diperkenalkan oleh Huawei dan Samsung. Desain smartphone lipat yang sering hanya wara-wiri di internet sebagai sebuah purwarupa, diharapkan mewujud sebagai produk jadi yang bisa dinikmati konsumen di tahun ini.

Kamera dengan lensa yang lebih variatif dan juga teknologi pemindaian 3D diharap ikut menjadi magnet agar konsumen rela merogoh koceknya demi sebuah smartphone baru. Akankah usah keras vendor-vendor ini akan membuahkan hasil di tahun ini? Kita tunggu saja! @ariefburhan/berbagai sumber