pulsa-logo

Bidik Pelajar, Inspira Academy Hadirkan 3D Printer untuk Industri 4.0


Hairuddin

Kamis, 28 Februari 2019 • 13:01

Inspira Academy, Industri 4.0, Printer 3D


Printer 3D Inspira AcademyPrinter 3D Inspira Academy

Revolusi industri 4.0 yang tengah hangat diperbincangkan, bahkan jadi bahasan khusus Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menjadi salah satu ‘topik’ seksi. Menurut Sugianto Kolim, Founder Inspira Academy, ada lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem industri 4.0, yaitu IoT, Artificial Intelligence (AI), Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Penerapan industri 4.0  juga merupakan upaya untuk melakukan otomatisasi dan digitalisasi pada proses produksi. Ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi, serta batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Mengutip pernyataan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto, Sugiono mengatakan bahwa dampak era industri 4,0 atau ekonomi digital ini juga berpotensi membuka peluang terhadap peningkatan nilai tambah terhadap PDB nasional sebesarUSD150 miliar dollar pada tahun 2025.  Selain itu, mampu menciptakan kebutuhan tenaga kerja yang melek teknologi digital sekitar 17 juta orang. Rinciannya, sebanyak 4,5 juta orang adalah talenta di industri manufaktur dan 12,5 juta orang terkait jasa sektor manufaktur.

Dengan potensi pasar tersebut, Inspira Academy sebagai produsen 3D Printer, perangkat pendukung industri 4.0  akan membidik produk 3D printernya untuk kalangan pelajar  yang jumlahnya mendekati 50 juta orang. Dalam beberapa tahun mendatang, lanjut Sugianto, diharapkan sebagian besar dari mereka menjadi seorang professional. Dengan harga lebih ekonomis pula, diharapkan 5% pelajar Indonesia dapat memiliki 3D printer sendiri.

Untuk mewujudkan target tersebut, Sugianto akan terus mendorong harga 3D printer lebih  terjangkau lagi. “Kami sedang dalam proses membangun pabrik 3D printer  lokal. Saat ini kami sedang berdiskusi dengan beberapa investor, modal ventura serta CSR perusahaan untuk mendorong produksi masal. Kami targetkan kapasitas produksi sekitar 1000 unit per bulan.  Tak hanya itu kami juga akan melakukan edukasi dan penyerapan teknologi ini di dunia pendidikan dan profesional. Dengan produksi masal diharapkan di tahun mendatang harga bisa turun di sekitar  Rp. 4 jutaan bahkan lebih rendah. Harga  3D printer  saat ini berkisar  antara Rp. 10 juta sampai Rp.  40 jutaan,” tegas Bapak Sugi.

Lebih lanjut Sugianto mengatakan bahwa para siswa atau pelajar harus mulai diedukasi sehingga mereka akan familiar dengan industri 4.0. Bisa kita bayangkan, lanjutnya, mereka belajar mendesain mainan sendiri, atau pra karya, kemudian langsung di print menggunakan 3D printer yang akan menghasilkan desainnya dalam bentuk tiga  dimensi. Ini akan memacu mereka lebih kreatif dan belajar membuat produk secara riil. Bisa jadi dari hasil karya riil mereka bisa bernilai ekonomis, misalnya dipasarkan secara online atau dijajakan pada temannya,” ungkap Sugianto.  

Terkait penguatan sumber daya manusia, Inspira Academy sedang mempersiapkannya  melalui program #100inovatorIndonesia. Sejak dibuka awal tahun ini, program pencarian #100innovatorIndonesia, kuotanya menurut Sugianto sudah 60 persen terpenuhi, sisa 40 persen lagi.


“Nah,  bagi Anda yang merasa tertantang untuk menjadi sang  innovator industri 4.0 segera mendaftarkan diri lewat  www.inspira.academy/100inovatorIndonesia, kuotanya tinggal sedikit lagi,”papar Sugianto.

Dalam program tersebut, lanjutnya, mereka  akan dibekali pendidikan desain dan cetak 3D secara gratis dan kesempatan untuk mendapatkan 3D printer dengan harga subsidi. Kedepannya ilmu cetak 3D ini akan diaplikasikan ke dunia robotik dan STEAM.

    2018-12-27 16:03:30


    Apa Itu “Industri 4.0”