pulsa-logo

Sehari Bermasalah, 3 Juta Pengguna Facebook Hijrah ke Telegram


Nariswari

Jum'at, 15 Maret 2019 • 17:43

Sehari Bermasalah, 3 Juta Pengguna Facebook Hijrah ke Telegram


ilustrasi, olah gambar: isk/PULSAilustrasi, olah gambar: isk/PULSA

Kemarin (14/3) adalah  hari yang sangat berat bagi Facebook yang selama lebih dari 24 jam mengalami masalah di dalam apilkasi jejaring sosialnya tersebut. Selama seharian penuh, Facebook  dibajiri oleh keluhan dan masalah ketidaknyamanan pengguna platform sosial  Facebook , Instagram, WhatsApp  dan Facebook Messenger. Para Pengguna kecewa, dan merasa kesal dengan Facebook, kemudian  beralih menggunakan aplikasi pesaing Facebook, yakni Telegram.   

Telegram  dikabarkan  telah memperoleh sebanyak 3 juta anggota baru dalam 24 jam terakhir dan pertumbuhan yang tiba-tiba, mau tidak mau  dikarenakan masalah serius yang sedang dihadapi oleh Facebook. Situasi seperti ini jelas memiliki implikasi positif bagi para pesaing Facebook, termasuk Telegram.

Kemarin pagi (14/3), Pavel Durov, pendiri dan CEO dari layanan pesan instan populer Telegram, menggunakan saluran resminya di Telegram  untuk menyambut 3 juta pengguna baru. Beliau  menulis:

"Saya senang sekali  melihat 3 juta pengguna baru  yang  mendaftar ke Telegram dalam 24 jam terakhir,  hal ini sangat bagus. Kami memiliki privasi  yang sangat baik  dan ruang tanpa batas untuk semua orang.”

Memang sih, kalimat  Durov  tidak menyindir Facebook. Bahkan  Durov sama sekali  tidak menyebutkan nama jejaring sosial pesaingnya tersebut.  Namun  bukan kebetulan bahkan jika Durov tidak secara eksplisit merujuk ke Facebook, Instagram dan WhatsApp.

Sejak  dini hari,  akhirnya Facebook, Facebook Messenger,  Instagram, dan WhatsApp tampaknya telah kembali normal, sehingga kemungkinan banyak pengguna aplikasi jejaring sosial tersebut  yang  telah kembali menggunakan platform yang lebih mereka kenal.

Setahun yang lalu, Telegram telah mengumumkan bahwa mereka telah melampaui 200 juta pengguna aktif per bulan meskipun ada hambatan yang dihadapi oleh Telegram  di beberapa negara karena penolakan  Telegram untuk tunduk pada permintaan  birokrasi  pemerintah setempat. (*)


Sumber