pulsa-logo

Stadia Platform Game Berbasis Cloud dari Google, Bakal Jadi Pesaing Konsol?


Nariswari

Rabu, 20 Maret 2019 • 15:40

stadioa,google,pesaing konsol,platform game cload,stadia adalah


Stadioa controler (Google)Stadioa controler (Google)

Google secara resmi telah meluncurkan platform terbarunya yang dinamakan Stadia. Nama “Stadia” adalah  bentuk jamak dari kata "Stadium" atau arena bermain atau gelanggang olahraga. Stadia yang diluncurkan oleh Google merupakan platform infrastruktur berbasis cloud tempat berbagai pengembang game dapat menulis (mereview) dan mendesain game untuk dijalankan secara langsung di perangkat keras dan di pusat data Google.

Lahirnya Stadia, membuka kemungkinan untuk bermunculannya berbagai game berbasis cloud yang secara teknis dapat dimainkan langsung ke controller dan monitor. Platform Stadia ini akan memungkinkan Anda untuk bermain game di layar jenis apa pun yang memiliki akses ke platform, termasuk TV, laptop, smartphone, dan tablet.

Tujuan Google dengan menciptakan Stadia adalah menghadirkan pengalaman menakjubkan bagi tiap gamers dengan menyuguhkan game tersedia dalam resolusi 4K dan berjalan pada 60 frame per detik (fps) dengan audio surround penuh.

Stadia akan “mencabut” berbagai batasan pada game yang selama ini membatasi pengguna. Dengan Stadia, tentunya makin banyak komunitas yang menikmatinya. Google mengatakan bahwa Stadia akan membebaskan pemain dari keterbatasan perangkat keras PC dan konsol game. Alih-alih, game-game akan dijalankan di jaringan global pusat data Google dengan kekuatan komputasi tanpa batas yang dimiliki oleh Google. Google mengklaim bahwa pengembang game tidak lagi terbatas pada batasan komputasi.

Google juga akan meluncurkan controller game untuk digunakan dengan layanannya yang disebut Controller Stadia. Controller Stadia ini terlihat bagus dengan tombol tangkapan layar khusus, pintasan Google Assistant, dan mikrofon internal. Pengontrol game ini memiliki dua joystick, empat tombol action, pad arah dengan ukuran cukup besar, dan dua tombol bahu di kedua sisi.

Google menjelaskan kemungkinan resolusi dan kecepatan frame rate relatif terhadap koneksi internet pengguna. Sebagai referensi, Google mendemokan game “Ceed Odyssey” yang beroperasi pada 1080p dan 60 fps menggunakan koneksi internet 25Mbps. Namun yang tidak disebutkan oleh Google, adalah bagaimana Google akan mengatasi latensi internet - yang didefinisikan sebagai penundaan antara saat data ditransmisikan dan instruksi saat untuk data game mulai dieksekusi. Bergantung pada koneksi internet pengguna, beberapa gamer mungkin mengalami lebih banyak input lag daripada yang lain. Controller game akan terhubung langsung ke internet melalui Wi-Fi, tetapi apakah  hal ini cukup untuk mengurangi  resiko  nge-lag saat main  game online atau tidak.  (*)

Sumber