pulsa-logo

Apakah Ponsel Pintar Membuat Manusia Semakin Bodoh?


Arief Burhanuddin

Kamis, 21 Maret 2019 • 13:04

lifestyle, kecanduan internet, kecanduan smartphone


Ilustrasi (http://knowledge.wharton.upenn.edu)Ilustrasi (http://knowledge.wharton.upenn.edu)

Kita sering terbiasa dengan anggapan bahwa teknologi akan membawa kemajuan yang lebih baik, berdampak positif, mempercepat kinerja, serta membuat segalanya menjadi lebih praktis dan efisien. Akibatnya, dampak buruk yang disebabkan oleh kemajuan teknologi seakan terabaikan.

Memang, tak ada yang menyangkal bahwa teknologi telah meningkatkan taraf hidup manusia dan menyediakan berbagai kemudahan di berbagai bidang. Namun di satu sisi, teknologi telah membentuk kumpulan orang-orang yang kecanduan, yang setiap saat selalu ingin mengecek smartphone mereka. Mungkin dalam sehari, bisa ratusan kali mereka menatap layar ponsel pintar mencari notifikasi terbaru atau men-scroll timeline media sosial.

Kecanduan semacam ini, -yang setiap saat selalu ingin membuka layar smartphone-, ditengarai sangat mengganggu konsentrasi dan mengalihkan kita dari daftar pekerjaan yang semestinya sudah disusun sesuai prioritas. Bagi para pekerja, hal ini sama sekali tidak membantu produktivitas. Belum lagi jika para akuntan mulai menghitung berapa kerugian yang ditanggung perusahaan akibat karyawannya lebih banyak membuka smartphone ketimbang membuka daftar pekerjaan yang harus diselesaikan.

Coba pikirkan sejenak. Jika Anda menghabiskan delapan jam sehari di kantor, dan kemudian mencurahkan satu jam saja waktu Anda untuk kegiatan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan – seperti membuka dan membalas email dari teman, memposting status di Facebook dan Instagram, bercuit di Twitter dan mengisi berbagi kolom komentar di akun-akun yang anda ikuti- maka hasil pekerjaan Anda dalam sehari dipastikan akan memiliki kualitas lebih rendah ketimbang jika Anda bekerja dalam waktu penuh tanpa gangguan. Anda mungkin berpikir bahwa Anda bisa melakukan multitasking tanpa mengganggu pekerjaan yang sedang Anda kerjakan, namun menurut penelitian, otak manusia bekerja secara serial.

Lagipula, jika Anda Anda hanya bekerja selama tujuh jam dari yang seharusnya delapan jam, dari tolok ukur ini pun produktivitas Anda sudah berkurang secara signifikan. Jika produktivitas adalah ukuran output yang dihasilkan selama per jam bekerja, pengurangan output untuk jumlah jam kerja yang sama akan diterjemahkan menjadi produktivitas yang lebih rendah.

Hingga saat ini, memang hanya ada sedikit penelitian yang dilakukan oleh para ekonom tentang kerusakan yang ditimbulkan akibat efek kecanduan smartphone. Tetapi para peneliti di bidang neuroekonomi, - sebuah bidang ilmu yang relative baru dan merupakan gabungan dari ilmu saraf, psikologi dan ekonomi, telah mengambil kesimpulan.

Dalam sebuah studi berjudul "Kecanduan smartphone, gangguan harian dan laporan produktivitas mandiri (Smartphone addiction, daily interruptions and self-reported productivity)," peneliti Éilish Duke dari University of London dan Christian Montag dari Universitas Ulm Jerman menemukan "hubungan moderat antara kecanduan smartphone dan penurunan produktivitas yang dilaporkan secara mandiri karena menghabiskan waktu dengan smartphone selama bekerja, serta jumlah jam kerja yang hilang karena penggunaan smartphone."


Tak hanya itu, kecanduan smartphone juga memiliki "dampak negatif" pada kegiatan yang tidak terkait dengan pekerjaan juga, menurut penelitian. Misalnya, Anda menjadi kurang perhatian dengan kebersihan lingkungan sekitar.

Vendor smartphone tahu bahwa mereka telah menciptakan ‘monster’, memikat konsumen dengan perangkat seluler yang semakin kuat, menampilkan layar yang lebih besar dan kamera yang lebih baik; belum lagi produk lain seperti jam tangan dan speaker pintar untuk rumah kita.

Ahli saraf dengan cepat mengidentifikasi respons dopamine terhadap kecanduan smartphone. Dopamine merupakan salah satu zat neurotransmiter otak yang berkontribusi terhadap perasaan senang - dari berbagai tanggapan yang diterima saat kita berhubungan dengan smartphone, yang mendorong kita untuk memeriksa ponsel dan media sosial lebih sering. Studi baru-baru ini menunjukkan bahwa keberadaan ponsel di ruangan tempat seseorang bekerja dapat mengganggu konsentrasi.

Eilish dan Montag menyatakan bahwa ‘perilaku bolak-balik mengecek layar smartphone’ bisa terjadi secara otomatis dan tidak sadar. Hal ini dibuktikan dengan tanggapan orang-orang yang dijadikan sampel dalam studi mereka. Mereka mengaku memakai smartphone secara wajar padahal frekuensi interaksi mereka dengan ponsel cerdas tersebut sebenarnya sangat berlebihan.

Penelitian lain telah menemukan bahwa gejala kecanduan ponsel pintar sejalan dengan gejala kecanduan klasik: kehilangan kontrol, gejala penarikan (diri dari lingkungan) yang memberi efek negatif pada kehidupan sosial dan pekerjaan kita.

Jadi, masih ingin berlama-lama dengan smartphone?