pulsa-logo

Ini Hasil Riset Booking.com Terkait Perempuan Dalam Industri Teknologi


Aldrin Symu

Kamis, 21 Maret 2019 • 20:27

booking.com,


Menurut riset global Booking.com, salah satu perusahaan commerce perjalanan terbesar dan pemimpin teknologi digital, tidak sampai 3 dari 5 (54%) perempuan yang kini bekerja di industri teknologi secara global, merasa bahwa industri ini memprioritaskan keragaman gender sebagai bagian dari agendanya. Namun, sebanyak 56% perempuan di bidang ini merasa bahwa perusahaan tempat mereka bekerja sudah memprioritaskan upaya untuk mencapai keragaman. Inisiatif untuk mengurangi kesenjangan gender dan mendorong lebih banyak perempuan untuk masuk ke industri teknologi banyak yang sudah cukup berhasil.

Meski begitu, perusahaan dan industri masih perlu menunjukkan komitmen yang lebih besar untuk membina talenta perempuan, tidak hanya mereka yang baru mempertimbangkan untuk memulai karier, tapi juga para ahli yang sudah lebih mapan di lapangan. Hal ini penting jika industri ingin mempertahankan tenaga kerja yang representatif dan berketerampilan.

Ada perubahan fokus dalam upaya yang dilakukan perusahaan-perusahaan teknologi untuk memikat orang-orang yang bertalenta. Selain mempertahankan SDM yang sudah ada, banyak perusahaan juga berusaha untuk menarik kembali para perempuan yang sempat meninggalkan dunia kerja dan ingin kembali. Dengan mempertahankan pengetahuan dan pengalaman mereka, perusahaan teknologi dapat merasakan manfaatnya tidak hanya dalam hal budaya kerja, tapi juga dari segi reputasi dan finansial.

Perempuan melihat berbagai peluang untuk membawa keuntungan bisnis yang nyata dan mendorong perubahan positif di seluruh industri

Laporan11 terbaru Forum Ekonomi Dunia menunjukkan bahwa kesenjangan gender di seluruh dunia justru membesar. Meski demikian, perempuan telah memberikan kontribusi yang besar dalam berbagai aspek bisnis. Ketika ditanya soal keuntungan dari keragaman gender bagi industri teknologi, 90% dari mereka, dan pelajar yang berminat untuk berkarier di bidang teknologi, berkata bahwa mereka ingin membantu persifikasi sektor, serta membawa perspektif, latar belakang, dan pengalaman baru. Mereka menyebutkan pula soal fleksibilitas lebih dalam hal benefit pegawai (90%) dan lingkungan kerja lebih baik yang dapat menguntungkan semua pegawai (90%). Mereka juga merasa bahwa kehadiran mereka di dunia kerja akan berkontribusi untuk perusahaan dan reputasi brand (88%), serta kepercayaan terhadap perusahaan teknologi secara umum (87%).

Data industri juga menunjukkan keuntungan ekonomi yang lebih luas. Riset PricewaterhouseCoopers2 yang terbaru menemukan bahwa peningkatan angka perempuan bekerja sebesar 5%, hingga 75%, dapat meningkatkan ekonomi Inggris hingga sekitar 9% dari bruto produk domestik (GDP).

“Mendorong keragaman gender dalam teknologi bukan hanya soal mencari bakat baru tapi juga soal mendukung perempuan yang telah membangun keterampilan, pengetahuan, dan keahlian dalam sektor kami. Pembagian SDM, dengan segala aspek pengetahuan, latar belakang dan jalur karier, harus menjadi pemikiran utama,” ujar Gillian Tans, CEO Booking.com. “Dalam sepuluh tahun terakhir ada perubahan signifikan yang mendorong perubahan positif yang menjadikan industri teknologi tempat kerja yang lebih beragam gender. Kita perlu memastikan bahwa momentum ini terus berjalan. Perusahaan akan dapat tumbuh dan berkembang ketika mereka memprioritaskan inklusivitas di semua level, merambah sumber SDM yang sudah ada secara efektif, dan sekaligus menarik SDM baru.”


Memanfaatkan nilai lebih yang dibawa perempuan yang kembali bekerja

Saat ini, setidaknya 3 dari 5 perempuan yang kembali bekerja di industri teknologi, atau mereka yang sempat cuti panjang (63%), memandang cuti karier sebagai hal yang merugikan. Hampir tiga dari empat (74%) percaya bahwa industri ini perlu lebih aktif dalam mendukung kembalinya mereka ke dunia kerja.

Namun, meningkatnya returnship, atau kembalinya perempuan ke dunia kerja, membawa harapan positif tidak hanya untuk sektor teknologi tapi juga firma hukum, layanan profesional, dan sektor lainnya. Sebanyak 70% perempuan yang kembali ke sektor teknologi percaya bahwa program-program yang berfokus pada training, pembaruan atau penambahan keterampilan, dan mentorship, memegang peranan penting dalam menghadapi tantangan-tantangan saat kembali bekerja. Mereka yang kembali ke dunia kerja ingin merasa berdaya dan membangun dari pengalaman sebelumnya, ketimbang memulai dari awal. Meski hanya dua dari lima perempuan yang kembali bekerja menganggap peluang untuk menambah keterampilan itu penting demi kesuksesan di sektor teknologi (41%), mereka juga setuju bahwa returnship memberi kepercayaan diri dalam mengatasi masalah saat kembali bekerja (70%).

Program-program ini mendukung dan memberdayakan perempuan dengan keterampilan dan bantuan yang mereka butuhkan untuk maju. Bahkan, 62% perempuan yang kembali bekerja di sektor teknologi berkata bahwa mereka bisa mendapat dukungan mentor, sesuatu yang dirasa penting untuk kesuksesan karier mereka. Sebanyak 68% juga berkata bahwa perusahaan membantu mereka memperbarui keterampilan teknis dan lainnya.

“Di Booking.com, kami telah lama percaya bahwa berinvestasi dalam program mentor dan pengakuan yang mendukung pengembangan perempuan dalam teknologi, misalnya program beasiswa kami dan Booking.com Technology Playmaker Awards. Riset kami menunjukkan bahwa para pelaku industri teknologi harus terus bekerja sama lebih erat untuk menyamakan strategi yang bisa mendorong perempuan untuk mengejar karier di industri ini. Perempuan membawa nilai yang begitu besar dan bisa memberi dampak positif terhadap perusahaan-perusahaan teknologi dan industri global, dan mereka harus menjadi bagian dari inisiatif proaktif yang berfokus pada inklusivitas, retention, dan pengembangan skill,” ujar Gillian menyimpulkan.

Sumber: Booking.com