pulsa-logo

Begini Cara Kerja Wireless Charging


Aldrin Symu

Selasa, 02 April 2019 • 09:42

wireless charging, techno,cara kerja wireless charging


image: mophie.com

Teknologi nirkabel (wireless) semakin meluas. Tidak hanya koneksi LAN yang nirkabel (WiFi), bahkan pengisian daya (charging) kini juga sudah nirkabel. Charging tanpa kabel ini sudah mulai diterapkan pada smartphone atau perangkat cerdas lainnya. Selain gak pusing dengan cabut pasang kabel di port yang kemungkinan cepat rusak, charging nirkabel juga terkesan lebih aman dan kekinian. Seperti apa sih wireless charging itu? Bagaimana cara kerjanya? Dan apa kelebihan dan kekurangannya? berikut sedikit ulasannya.

Sebelum merambah ke dunia gadget, hampir satu dekade lalu beberapa produsen mobil mulai melirik teknologi pengisian daya secara nirkabel. Dimana pengisian daya mobil dilakukan secara induktif dengan memasukkan tuas charging ke wadah khusus. Namun karena membutuhkan banyak daya, pengaplikasian pada produk otomotif secara masif tidak terdengar lagi. Teknologi wireless charging sudah diterapkan pada perangkat yang diharapkan tahan air seperti sikat gigi elektrik. Cukup dengan meletakkan sikat gigi di atas charger stand, maka baterai akan terisi secara otomatis. Dan kini teknologi wireless charging menjadi tren di dunia telekomunikasi.

Sejarah Wireless Charging

Menurut wikipedia, teknologi wireless charging ini dianggap bermula pada tahun 1826 dimana André-Marie Ampère menemukan hukum Sirkuit Ampere (Ampere’s Circutal Law) yang menunjukkan bahwa arus listrik ternyata menghasilkan medan magnetik. Kemudian pada tahun 1891-1904 penelitian lanjutan dikembangkan dan dipraktekkan oleh Nikola Tesla yang percaya bahwa energi bisa ditransfer dari satu lokasi ke lokasi lainnya secara wireless.

image: slideshare.net


Cara Kerja Wireless Charging

Cara kerja Wireless charging pada dasarnya sangat sederhana. Dimana sepasang koil yang mengandung muatan magnetik diletakkan pada 2 (dua) perangkat berbeda. Kedua koil elektromagnetik tersebut apabila didekatkan akan menghasilkan medan magnet yang juga menghasilkan listrik. Listrik yang dihasilkan tersebut kemudian akan terserap oleh sirkuit charger yang ada di dalam perangkat untuk kemudian mengalirkannya ke penyimpan daya.

Saat ini, terdapat 3 (tiga) standard untuk wireless charging yaitu Qi standar, Power Matters Alliance (PMA), dan Aliance for Wireless Power (A4WP). Standard tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang dapat menyokong pertumbuhan produk-produk berbasis wireless charging.

Meskipun cara kerjanya terkesan sederhana (hanya memerlukan sepasang koil) namun pada aktualisasinya cukup rumit. Dibutuhkan lebih dari sebuah coil pada power conversion (transmitter), dan arus AC untuk menghasilkan induksi magnetik. Sistem ini juga dilengkapi dengan komunikasi dan kontrol untuk mengatur proses pengisian. Perpindahan arus listrik hanya terjadi saat dibutuhkan, semisal baterai dalam keadaan kosong. Agar terjadi efisiensi maka sistem ini akan menghentikan proses transfer daya apabila baterai sudah terisi penuh.

image: wikipedia.org

Karenanya, wireless charging memiliki beberapa mode yaitu mode induksi, mode resonant, mode kombinasi (resonant dan induksi) dan mode standby.

1. Mode induksi

Pengisian mode induksi terjadi saat jarak antara wireless charger pad dan smartphone (perangkat) berjarak kurang dari 7 mm. Pada kondisi ini arus listrik (induksi magnetik) dipancarkan oleh transmitter coil pada wireless charger pad ke receiver coil hanya dibatasi oleh casing luar perangkat. Agar induksi magnetik yang dihasilkan lebih besar dan pengisian menjadi efektif, maka coil harus diluruskan dengan cara digeser. Pada beberapa model transmitter Qi dilengkapi beberapa buah coil, sehingga Anda tidak perlu lagi meluruskan coil untuk mendapatkan pengisian yang efektif.

2. Mode resonant

Ketika pengisian mode induksi tidak dimungkinkan, Anda dapat menggunakan mode resonant charging. Mode ini dapat bekerja saat jarak antara wireless charger pad dan smartphone berjarak maksimal sampai 45 mm. Mode resonant mempunyai tingkat pengisian yang sama baiknya dengan mode induksi. Dengan toleransi jarak yang lebih besar, wireless charger pad dapat diletakkan dibawah meja kerja dan lainnya, sehingga terlihat lebih rapi.

3. Mode keduanya (kombinasi resonant dan induksi)

Pada kondisi tertentu, pengisian dapat terjadi dengan kombinasi kedua mode yaitu induktif dan resonansi. Karena pada kedua mode ini memiliki kasus penggunaan yang unik dan manfaat, produk Qi menggabungkan keduanya untuk menawarkan layanan yang inovatif, fitur hemat energi dan biaya se efektif mungkin.

image: powerbyproxi.com

4. Mode standby

Sistem wireless charging juga dilengkapi dengan mode stanby untuk menghemat sumber daya. Sistem akan masuk ke mode standby apabila baterai perangkat semisal smartphone dalam kondisi penuh. Atau wireless charger pad tidak mendeteksi adanya device pada jarak maksimal 45 mm.

Dikutip dari berbagai sumber