pulsa-logo

Bermain Game Kini Tak Lagi Sekedar Hobi


Arief Burhanuddin

Senin, 22 April 2019 • 20:44

esport, game, mobile game, asian games 2018, ASEAN Games eSports


Perkembangan industri olahraga kini tak melulu dikuasai oleh cabang-cabang olahraga konvensional seperti sepakbola, bulu tangkis, atau cabang olahraga lain yang hampir semuanya menuntut kecakapan fisik.

Olahraga saat ini juga menuntut kesigapan berpikir dan kecerdasan otak seperti halnya permainan catur.

Jika beberapa waktu silam (mungkin juga sekarang masih tapi sudah sangat berkurang), para orang tua 'menceramahi' anaknya karena membuang-buang waktu dengan bermain game setiap harinya, mungkin mereka harus berpikir ulang saat menasehati anaknya karena pemerintah saat ini sudah membuka diri terhadap gagasan untuk menjadikan eSport sebagai cabang olahraga yang serius.

Tanggal 26 Maret lalu, Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia, Imam Nahrawi menginformasikan bahwa Indonesia akan mendorong eSports ke berbagai komunitas dan menegaskan bahwa kementeriannya akan memainkan peranan penting dalam mendorong pertumbuhan eSports di Indonesia.

"Fokusnya adalah bagaimana membuat eSports dapat diterima di komunitas dan menjadi hiburan favorit," katanya.

Dukungan terhadap eSport di Indonesia sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa waktu lalu. Di ajang Asian Games 2018, yang diadakan di Jakarta dan Palembang secara bersamaan, Enam pertandingan demo eSport telah dilakukan dengan menggandeng game seperti Arena Of Valor, Hearthstone, Pro Evolution Soccer, League Of Legends, Clash Royale dan StarCraft 2.


Gairah yang sama juga dirasakan di negara tetangga, Malaysia. Malaysia mengambil inisiatif menjadi  tuan rumah turnamen eSports untuk wilayah Asia Tenggara. Pemerintah di sana, bekerja sama dengan eSports Malaysia, menyelenggarakan ASEAN Games untuk eSports (AGES) yang pertama kalinya dengan jumlah hadiah sekitar US$ 256.000 atau sekitar 3,6 miliar rupiah.

Jalur Gengsi

Pada bulan Oktober 2018, penelitian yang dilakukan platform iklan video seluler terkemuka POKKT bekerjasama dengan Decision Lab dan Mobile Marketing Association (MMA) menemukan bahwa jumlah gamer seluler di Indonesia telah melampaui 60 juta dan diperkirakan akan meningkat menjadi 100 juta pada tahun 2020.

Walaupun Indonesia dikenal memiliki populasi anak muda yang besar, penelitian ini menyodorkan fakta bahwa bermain game adalah aktivitas yang populer di kalangan anak muda antara usia 13 hingga 34 tahun, tanpa memandang jenis kelaminnya.

sumber: theaseanpost.com)sumber: theaseanpost.com)

Tapi mungkin salah satu aspek yang menarik bagi orang Indonesia, dari semua lapisan masyarakat untuk bermain game adalah bagaimana olahraga yang satu ini bisa menghasilkan uang.

Menurut data terbaru dari Newzoo, sebuah perusahaan intelijen pasar yang mencakup permainan global dan eSports, pendapatan global dari eSports pada tahun 2017 diperkirakan mencapai US$ 696 juta (sekitar 9,8 miliar rupiah) dan diperkirakan akan tumbuh hingga US$ 1,5 miliar (kurang lebih 21,2 miliar rupiah) pada tahun 2020. Newzoo juga menyoroti bahwa wilayah Asia-Pasifik menyumbang 51 persen penggemar eSport global pada tahun 2017.

Tahun lalu, ajang gaming International telah memecahkan rekor dengan mneyediakan hadiah terbesar dalam sejarah eSports senilai US$25,5 juta atau sekitar 361,4 miliar rupiah. Salah satu cerita menarik yang menginspirasi gamer Indonesia justru datang dari Malaysia, dimana seorang bocah lelaki bernama Yap Jian Wei menjadi bagian dari tim yang memenangkan tempat kedua untuk game Defense of the Ancients (DOTA) 2 dalam ajang Games International 2018.

Meskipun gagal membawa pulang hadiah utama senilai US$ 11,2 juta, tim Yap tetap jumawa dengan membawa pulang uang sebesar US$ 4,1 juta (58 miliar rupiah). Dibagi dengan anggota tim lain pun, Yap tetap pulang dan disambut sebagai seorang jutawan.

Cerita Yap menjadi inspirasi bagi gamers Indonesia yang kini melihat bahwa bermain video game lebih dari sekedar hobi. Game telah memberi jalan bagi pria dan wanita muda Indonesia untuk menunjukkan keterampilan mereka kepada dunia dan mendapatkan penghargaan internasional.

Sebagian besar orang di Indonesia dan umumnya Asia Tenggara  masih mendatangi lapangan dan menikmati pertandingan sepak bola yang baik. Namun, anak-anak yang lebih mudah mulai menyukai eSports dan menikmati waktu dengan bermain video game. Jangan terlalu kolot Bapak Ibu, mungkin suatu saat mereka akan pulang ke rumah sebagai jutawan! @ariefburhan/berbagai sumber