pulsa-logo

Ketika Skin di Game Jadi Simbol Status Sosial


PULSA

Rabu, 08 Mei 2019 • 02:05

skin,skin PUBG,skin fortnite,dampak game PUBG,dampak negatif game PUBG


Gambe OUBG (ilustrasi/doc.PULSA)Gambe OUBG (ilustrasi/doc.PULSA)

Cara pengembang game yang mengambil metode in-app-purchase untuk menghasilkan uang, bisa dibilang sangat berhasil untuk mendapatkan jumlah pengguna yang banyak. Cara ini memang tak memaksa pengguna untuk membeli pernah-pernik yang dijualnya seperti misalnya skin atau tampilan. Bahkan tak ada bedanya antara pengguna dengan skin gratisan dengan skin premium untuk masalah skil. Tapi ini justru menjadi sesuatu yang membedakan antara pemian dengan skin gratisan dan skin berbayar, yakni masalah status sosial.

Artikel yang diunggah Polygon.com mengungkapkan bahwa anak-anak muda di AS tidak lagi hanya mempersoalkan penampilan fisik seperti pakaian, merek sepatu, ponsel, tapi juga sudah merasuk ke video game. Seorang guru bahasa Inggris kelas tujuh dan depapan di sekolah swasta bergengsi di sana bernama Paul Towler, mengaku bahwa dirinya sudah terbiasa melihat penampilan yang berbeda-beda melalui melalui benda-benda yang bisa Anda pegang secara fisik. Tapi setelah sensasi game royale battle Fortnite meledak, perseturuan antara siswa beralih ke sesuatu yang tidak terduga. Pakaian virtual (skin) Fortnite menjadi simbol status, dan beberapa murid Towler mulai mencari tahu skin apa yang dikenakan teman sekelas mereka dalam game tersebut.

Hal ini menimbulkan masalah baru yang negatif. Contohnya seorang siswa "meminta [uang] kepada orang tuanya untuk membeli skin oleh karena tidak ada yang mau bermain dengannya" dengan alasan skin yang dikenakan hanya yang gratisan atau dasar. Memang, sang guru mengakui bahwa intimidasi tidak selalu terkait dengan Fortnite, tapi ini menjadi ala an bagi [siswa] untuk menyerangnya.Sepertinya jika berkaitan dengan Fortnite, tidak memiliki teman untuk diajak bermain adalah sesuatu yang buruk.

Karena Fortnite telah berubah menjadi tempat nongkrong baru, kekacauan hirarki sosial telah terjadi. Beberapa pemain membuat nama untuk diri mereka sendiri berdasarkan keterampilan, dan status diberikan sesuai dengan tingkat menang atau rasio membunuh / kematian pemain. Tetapi game Fortnite menghasilkan satu pemenang (atau skuad), yang berarti bahwa rata-rata para pemain tidak bisa menjadi yang paling menonjol ini. Akhirnya, untuk mendapatkan perhatian daru pemain lain maka penampilan karakter mereka menjadi hal yang ditonjoklan. Dan di game Fortnite, tidak ada yang lebih buruk dari memiliki karakter standar, atau dikenal sebagai "default."

Fortnite memang hanya salah-satu contoh game dimana skin menjadi sesuatu yang membedakan dengan pemain lain. Sebetulnya ini juga berlaku dengan game PUBG, dan game ini sangat popular di Indonesia dan juga di Negara Asia lainnya. Bukan tidak mungkin para pemain game PUBG berlomba-lomba membanggakan skin mereka dan berupaya untuk membeli skin-skin baru yang ditawarkan. Meskipun kita belum tahu dampaknya bagi kehidupan para pemain PUBG terutama  di Indonesia apakah juga sudah mulai membedakan teman bermain dengan melihat skin yang digunakan? Mudah-mudahan semua itu tidak terjadi di sini. Sebab pada dasarnya permianan hanyalah sekedar hiburan, bukan ajang untuk pamer. (*)