pulsa-logo

Realme Sesumbar Xiaomi Mulai Terancam di India


Nariswari

Senin, 13 Mei 2019 • 19:43

realme,xiaomi,realme vs xiaomi,realme india,realme vs xiaomi di india,realme 3 pro


ilustrasi/Pleuncuran Realme 3 Pro di Indonesia (doc.PULSA)ilustrasi/Pleuncuran Realme 3 Pro di Indonesia (doc.PULSA)

April lalu, menjelang peluncuran Realme 3 Pro , Vice President Global Xiaomi dan Managing Director Xiaomi India pernah mengomentari  smartphone terbaru Realme menjalankan prosesor yang sudah ketinggalan zaman (jadul). Saat itu, Madhav Sheth (CEO Realme) hanya merespons dengan tweet yang tak berlebihan. Namun, tampaknya  kali ini Sheth melakukan “serangan balik” ke Xiaomi. Seperti dilaporkan 91mobiles, Madhav Sheth  baru-baru ini mengatakan bahwa Xiaomi saat ini dalam posisi terancam, seiring dengan pertumbuhan kompetitor sengitnya yakni Realme di India.

Dalam sesi  wawancaranya dengan media, Sheth berkomentar bahwa selama ini dalam menjalankan bisnis mereka, Realme tidak pernah mengomentari produk saingannya dengan citra buruk. Sehingga apabila kompetitor menargetkan pendatang baru di industri smartphone dan mengomentari berbagai hal yang buruk, itu menunjukkan bahwa sebenarnya posisi mereka tidak aman.

“Kami  tidak pernah mengomentari perangkat Xiaomi. Namun kami mengomentari keputusasaan dan rasa tidak aman mereka, dan bukan kualitas produk mereka. Menjadi merek nomor satu, namun Xiaomi masih mencoba untuk meremehkan merek yang baru. Di sinilah saya dapat merasakan dengan jelas, bahwa Xiaomi dalam posisi tidak aman…” Ujar  Sheth ke media.

Realme diperkenalkan sebagai sub-merek Oppo tahun lalu dan dalam setahun telah berhasil menjadi salah satu merek smartphone paling populer  di pasar India. Menurut laporan Counterpoint untuk Q1 2019, sementara Xiaomi mempertahankan posisi teratasnya dengan pangsa pasar 29%, Realme berhasil mendapatkan pangsa pasar 7%. Presentase ini telah menempatkan Realme di posisi keempat di industri ponsel pintar di negara itu. Maka, cukup  masuk akal jika Xiaomi khawatir dengan pertumbuhan Realme.

Tak hanya itu, Realme pun secara masif memperluas kehadiran toko-toko offline-nya di berbagai negara. Menurut Madhav Sheth, model penjualan secara  offline Xiaomi selama ini dinilai tidak ideal karena lebih mendekat ke pengecer baru yang tanpa pengalaman sebelumnya, dan meninggalkan pengecer-pengecer mapan. Sedangkan di India, bisnis lebih banyak bergantung pada keterikatan emosi, kedekatan dan hubungan pribadi. (*)

Sumber