pulsa-logo

Akhirnya, Apa yang Dikhawatirkan Pengguna WhatsApp Terjadi


Fauzi

Kamis, 16 Mei 2019 • 11:34

WhatsApp,Financial Times


IlustrasiIlustrasi

Sejak diakuisisi Facebook pada 2014 lalu, isu keamanan di platform oleh pesan WhatsApp mencuat di kalangan pengguna. Mulai dari spekulasi tentang seberapa aman platform tersebut dari praktik pengumpulan data oleh perusahan induk yang baru, hingga kerentanannya terhadap serangan malware dan lain-lain.

Soal isu keamanan yang menerpa WhatsApp, Financial Times dalam sebuah laporannya mengungkap di mana hal yang mungkin tidak diharapkan pengguna, adalah bahwa percakapan mereka berpotensi disadap oleh pihak ketiga - perusahan lain dengan sarana untuk menciptakan malware yang kuat dapat mencegat percakapan yang dilindungi.

Bukan tanpa alasan, dalam laporan tersebut diungkap bahwa perusahaan yang berbasis di Israel berhasil menginstal malware yang bisa digunakan untuk pengawasan penggilan telepon yang dilakukan melalui aplikasi.

WhatsApp sendiri dilaporkan telah mengkonfirmasi perihal kerentanan yang ada di aplikasinya, namun tidak menyebut nama pelakunya.

“WhatsApp mendorong pengguna untuk mengupgrade ke versi terbaru dari aplikasi, serta menjaga sistem operasi seluler mereka tetap up to date, untuk melindungi terhadap potensi eksploits yang ditargetkan yang dirancang untuk mengkompromikan informasi yang tersimpan di perangkat seluler,” kata seorang juru bicara seperti dilansir CNBC.

Di sisi lain, sang juru bicara juga mengatakan bahwa pihaknya terus bekerja sama dengan mitra industri untuk menyediakan peningkatan keamanan terbaru dalam membantu melindungi penggunanya.

“Financial Times menyebut perusahaan keamanan cyber berbasis di Israel, NSO Group, di balik insiden itu. WhatsApp telah mengindikasikan serangan itu seolah-olah itu dilakukan oleh perusahaan swasta yang bekerja dengan pemerintah untuk memberikan spyware, dan ‘sejumlah’ pengguna sasarannya,” tulis CNBC dalam laporannya.


NSO Group sendiri cukup terkenal dengan perannya, terutama ketika membantu FBI membuka ponsel penembak massal San Bernardino setelah Apple berkelit ketika diminta FBI untuk melakukan hal yang sama. Dalam hal ini NSO menolak untuk berkomentar.

Hal ini menjadi masalah serius bagi reputasi WhatsApp, yang dibangun di atas privasi dan keamanan enkripsi end-to-end dalam aplikasi pesan singkat dan penggilan suara yang sangat popular.

Dengan enkripsi end-to-end artinya data yang dikirim via WhatsApp diacak dalam transit, dan hanya dapat dimengerti oleh pihak yang mengirim dan yang menerimanya, apakah data itu dalam bentuk teks, gambar, atau percakapan suara. Ini adalah titik penjualan utama aplikasi oleh pesan paling popular tersebut.

Sisi keamanan inilah yang sejatinya membuat WhatsApp sebagai pilihan popular bagi orang yang ingin berkomunikasi ‘out of band’, tentang segala macam informasi pribadi, termasuk segala sesuatu mulai dari maslaah hukun dan bisnis, hingga masalah pribadi atau politik.

Financial Times mensinyalir ada pihak yang tidak dikenal yang berusaha men-decrypt data itu dalam perjalanannya menggunkan malware, menargetkan penggiat HAM dan menggunakan layanan perusahaan Israel untuk melakukannya. Atas insiden ini, WhatsApp mengatakan telah menghubungi pihak otoritas, yakni Departemen Kehakiman di sana.

Kabarnya, investigasi sedang dalam tahap awal, tetapi WhatsApp harus berjuang untuk mempertahankan reputasinya di antara pengguna yang ‘security-minded’ yang khawatir data mereka dapat dikompromikan, bukan hanya oleh perusahaan Israel, tetapi oleh pihak lainnya. (Ozi)

(Sumber)