pulsa-logo

Tak Boleh Berrbisnis dengan Perusahaan AS, Huawei Dilarang Pakai Snapdragon dan Android?


PULSA

Sabtu, 18 Mei 2019 • 01:12

AS lauarang huawei berbisnis dengan perusahaan AS,larangan as untuk huawei,perang dagang AS-Cina


Logo Huawei (ilustrasi/PULSA)Logo Huawei (ilustrasi/PULSA)

Minggu ini tampaknya masa paling berat buat Huawei. Beberapa hari lalu Presiden AS Donald Trump menandatangi dokumen eksekutif mengenai pelarangan membeli atau menggunakan peralatan dari Huawei yang dianggap membahayakan keamanan nasional Negara itu. Selain itu, Jumat (17/5) AS juga menempatkan Huawei ke daftar hitam perdagangan. Artinya, Huawei tak lagi bisa dengan leluasa melakukan bisnis dengan perusahaan A.S, semisal untuk mendapat pasokan suku cadang.

Departemen Perdagangan AS mengeluarkan aturan tersebut pada Rabu lalu, dan menempatkan Huawei dan 68 afiliasi di lebih dari dua lusin negara ke dalam Daftar Entitas, sebuah langkah yang melarang perusahaan untuk membeli suku cadang dan komponen dari perusahaan Amerika tanpa persetujuan pemerintah A.S.

Seperti dikutip PULSA dari Reuters, tindakan itu muncul ketika dua negara ekonomi terbesar dunia itu menaikkan tarif dalam pertempuran dagang atas keyakinan para pejabat AS yang menyebut praktik perdagangan tidak adil oleh Tiongkok.

Lalu bagaimana dengan bisnis smartphone Huawei saat ini? Meskipun Huawei sebetulnya sudah lama mengantisipasi kemungkinan terjadinya sanksi ini. Sebagai contoh, produk-produk smartphone Huawei saat ini lebih banyak menggunakan SoC atau chipset mobile buatan sendiri yakini HiSilicon Kirin. Tetapi, jika saja larangan itu termasuk untuk menggunakan OS Android yang kita tahu itu dimiliki oleh perusahaan AS yakni Google, maka tentu akan menjadi pukulan yang berat bagi Huawei.

Meski demikian, sanksi tersebut sebetulnya juga ikut merugikan perusahaan AS. Pengacara Washington Douglas Jacobson, seorang ahli perdagangan, mengatakan kepada Reuters, akan berdampak pada perusahaan AS yang berbisnis dengan Huawei. "Meskipun tujuannya adalah untuk menghukum Huawei, akhirnya perusahaan-perusahaan AS juga terhukum," kata Jacobson, seperti dikutip dari Reuters.

Kondisi ini juga membuat Analis memangkas target harga pada beberapa perusahaan microchip, termasuk Xilinx Inc. Saham Xilinx yang ditutup turun 7,3 persen, sementara pesaing chip Qualcomm Inc turun 4 persen.

Sejarah juga menunjukkan bahwa AS bisa saja melakukan penangguhan hukuman. Pada 2016 lalu, perusahaan asal Cina ZTE juga pernah merasakan sanksi yang sama yakni perusahaan AS dilarang menjual suku cadang dan komponen ke ZTE selama sekitar dua minggu. Namun akhirnya Departemen Perdagangan AS mengeluarkan serangkaian lisensi umum sementara yang memungkinkan ZTE untuk bisa berbisnis dengan pemasok AS sampai mereka menyetujui kesepakatan pembelaan setahun kemudian.


Kisah ZTE tidak berakhir di sana. Pada April 2018, Departemen Perdagangan kembali memberlakukan larangan terhadap perusahaan Amerika menjual komponen ke ZTE setelah menuduhnya melanggar perjanjian dan membuat ZTE menghentikan operasi besar sampai mencapai kesepakatan baru musim panas lalu.(*)

sumber