pulsa-logo

Direktur Regional Nexign: Ini Faktor Terpenting untuk Transformasi Digital


Hairuddin

Kamis, 04 Juli 2019 • 14:16

Transformasi Digital, Digital Transformation, Nexign, Internet of Things, IoT, Layanan Digital, CSP, Communications Service Providers,


Transformasi DigitalTransformasi Digital

Transformasi digital sukses ‘menghipnotis’ pelaku industri untuk mengkaji ulang proses bisnis mereka dari awal. Banyak pabrik memanfaatkan Internet of Things (IoT) untuk memungkinkan pemeliharaan secara prediktif, para peritel mendapat pandangan holistik atas pelanggannya sehingga bisa memberikan layanan personal yang cepat.

Industri fintech pun tidak luput dari tren ini. Buktinya, banyak Bank yang mulai menawarkan kemudahan bertransaksi langsung dari rumah lewat aplikasi mobile atau situs website. Targetnya, tentu saja untuk meningkatkan kepuasan bagi para pelanggan dan bersaing dengan para competitor.

Industri telekomunikasi juga mengalaminya. Dalam laporan "Communications Service Providers (CSPs) digital transformation”, perusahaan riset Analysys Mason bahkan menyatakan bahwa para penyedia layanan komunikasi tidak memiliki pilihan untuk mengubah bisnis dan sistem operasi mereka. Pilihannya: "digitalisasi atau mati".

Operator telekomunikasi di Asia Tenggara mengakui hal ini, seperti tertulis dalam laporan terbaru ICT Enterprise Insights dari Ovum, yang menunjukkan bahwa sektor telekomunikasi adalah yang terdepan dalam digitalisasi, dengan skor indeks kematangan-perkembangan 43,9%, mengalahkan pabrikan dan peritel inovatif, bahkan melampaui sektor perbankan. Para operator ini telah meluncurkan inisiatif baru dalam upaya mereka menjadi Penyedia Layanan Digital (Digital Service Provider - DSP), karena menyadari model bisnis digital baru ini adalah cara menjaga nilai kompetitif mereka di pasar serta menciptakan sumber pendapatan mutakhir untuk bertahan di era baru ini.

Menurut jurnal yang ditulis Andrew Tan, Direktur Regional, Asia Tenggara di Nexign, para pelaku di industri telekomunikasi setidaknya harus mulai bertanya:

  • Apa yang dilakukan bisnis saya untuk keluar dari rantai pendapatan tradisional yang stagnan?
  • Bagaimana kita memaksimalkan keuntungan dari transformasi digital?
  • Siapa saja para pendukung perusahaan saya dalam mengubah bisnis model serta membantu memenuhi tuntutan era baru ekonomi digital?

Jadi bagaimana seharusnya CSP menghadapi perjalanan transformasi ini menjadi DSP? Pengalaman pelanggan adalah kuncinya. Analitik mendalam bisa memberikan wawasan yang pasti dan bisa ditindaklanjuti. Lalu, berbagai pisi harus dibuat lincah agar bisa memanfaatkan wawasan tersebut sebelum momentum peluangnya hilang. Namun, tujuan utamanya tetap adalah memastikan solusi Sistem Dukungan Bisnis (BSS) mampu mendukung multistrategi.


Ketersediaan yang Lebih Cepat

Time-to-market adalah hal krusial. Solusi BSS yang tepat akan memungkinkan operator telekomunikasi untuk mengkonfigurasi produk dan layanan baru dengan cepat dan efisien, mempersingkat siklus pengembangan tanpa kompromi dalam kualitas. DSP sejati harus bisa mengambil keuntungan penuh dari teknologi transformasional seperti arsitektur cloud, blockchain, IoT dan 5G, untuk merombak dan melahirkan model bisnis baru, serta menpersifikasi sumber pendapatan.

Keluwesan platform BSS ini sangat penting sebagai percobaan telekomunikasi dengan barang-barang non-tradisional, seperti asuransi, keuangan, dan bahkan layanan kesehatan. Penyediaan konten juga menjadi semakin populer, dengan banyak operator sudah menawarkan program TV dan musik digital kepada pelanggan. Solusi BSS harus menjadi landasan transformasi digital, memampukan CSP untuk memanfaatkan berbagai peluang baru yang akan muncul melalui revolusi digital yang sama.

Penawaran Produk yang Fleksibel

Sebelum era millennial dan Generasi Z, CSP dapat menyamaratakan pelanggan, menjual produk yang sama kepada semua orang dengan cara yang sama. Kini, peraturan transformasi digital telah meningkatkan standar permainan. Setiap tahun, mayoritas pelanggan potensial para operator telekomunkasi adalah para digital native. Ekspektasi mereka berubah dari "ini sudah cukup" menjadi "mengapa tidak bisa lebih?".

Untuk menjangkau semua calon pelanggan dengan produk dan layanan baru, standar terkini bagi pihak brand adalah pendekatan omnikanal dan layanan personal. Platform BSS harus cukup fleksibel untuk menciptakan bibit-bibit penawaran baru agar penyedia dapat menjangkau berbagai jenis penggunaan. Saat pelanggan digital native melihat menu yang lebih lengkap, di mana tersedia opsi sesuai selera uniknya, mereka akan melihat perusahaan telekomunikasi bukan sebagai "penyedia layanan" tetapi sebagai "penggiat gaya hidup".

Merangkul Ekonomi API

Dengan membuka platform inti mereka untuk integrasi dengan lainnya, DSP bisa memperkaya portofolio dan memperluas jangkauan mereka. Platform BSS yang mendukung infrastruktur kemitraan terbuka bisa menghilangkan hambatan membuat produk baru dengan cepat, memperluas kumpulan talenta penyedia, dan meningkatkan keterlibatan pelanggan di mana konsumen menyadari bahwa mereka dapat menemukan semua yang mereka butuhkan melalui satu pintu. Peningkatan loyalitas merek dan ambassador akan menyusul.

Selain itu, arsitektur yang terbuka memungkinkan DSP untuk menpersifikasi model bisnis dengan transformasi digital yang sejati, yang mengarah ke sumber pendapatan baru. API terbuka adalah langkah penting. Solusi BSS yang tepat harus menghadirkan kapabilitas ini, sekaligus arsitektur berkecepatan ganda yang mendukung migrasi dari platform lama ke lapisan berbasis cloud yang mampu bersaing di masa depan—tanpa waktu downtime. Kelincahan bisnis, integrasi yang dipercepat, peningkatan nilai dan pengoptimalan Total Biaya Kepemilikan (TCO) hanyalah sebagian dari manfaat penuh arsitektur terbuka.