pulsa-logo

Cloudera Paparkan Data dan Analisis Untuk Perangi Kejahatan Finansial


Aldrin Symu

Sabtu, 19 Oktober 2019 • 01:08

cloudera, open-source,


Beberapa hari lalu (17/10/19) Cloudera mengadakan Media Briefing bertemakan “Memerangi Kejahatan Finansial dengan Data dan Analisis” yang bertempat di JW Marriott Hotel, Mega Kuningan, Jakarta.

Fanly Tanto selaku Country Manager Cloudera Indonesia menjelaskan bahwa 69% eksekutif mengatakan organisasi mereka membutuhkan strategi data yang komprehensif untuk memenuhi tujuan mereka, namun hanya 35% berpikir strategi mereka saat ini cukup. Sedang 41% merasa tidak memiliki strategi yang jelas untuk mengelola data di banyak cloud dan hampir satu dari empat orang tidak merasa bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengambil data dengan cukup cepat untuk membuat keputusan secara real time. Sementara itu Cloudera memiliki Platform Data yang berisikan Data Hub, Data warehouse dan Machine Learning.

P. Irawan SE.,M.Ak, CFE selaku Financial Transaction Senior Researcher of INTRAC (PPATK) mengatakan bahwa PPATK selama ini sudah memberi guidance untuk mendeteksi indikator adanya risiko kejahatan finansial.  Saat ini, yang perlu ditingkatkan adalah bagaimana industri bisa menghindari false positive, yakni kondisi dimana industri meyakini tidak adanya praktek cuci uang dalam lingkungannya, padahal sebenarnya ada. Caranya adalah dengan memanfaatkan regulasi yang ada untuk memaksimalkan pendeteksian nasabah atau calon nasabah.

Misalkan menggunakan daftar teroris, daftar nama dugaan teroris, nama-nama DPO, blacklist, pecegahan ke luar negeri. Pendeteksian ini harus harus digunakan dengan kecerdasan analitik sehingga para pelaku kejahatan tidak bisa menyalahgunakan layanan keuangan Indonesia.

Menanggapi hal itu, Billie Setiawan (SVP of Enterprise Data Management, Bank Mandiri) menyatakan bahwa Bank Mandiri selama ini sudah melakukan data governance untuk memastikan kualitas data, baik data existing maupun future yang masuk ke Mandiri.  Hal ini membawa banyak keuntungan. Dengan mengenal konsumen, maka pihaknya bisa mendeteksi fraud, aktivitas pencucian uang sejak dini.

Billie menyatakan dukungannya terhadap kerjasama publik dan privat. Menurutnya, mendeteksi pola kriminalitas hanya di satu bank tidaklah cukup. Terutama karena pelaku biasanya melakukan aktivitas di beberapa bank sekaligus, “Dengan kolaborasi ini, PPATK bisa men-combine data semua, dan menganalisanya. Bank Mandiri sangat mendukung hal ini,”ujarnya.

Untuk menghadapi financial crime - pencucian uang dan terorisme- semua pihak harus berkolaborasi dan berperan aktif, baik industri, regulator didukung oleh teknologi. Deteksi awal, perlu holistik enterprise wide data karena banyak yang bisa dipelajari dari kumpulan data. Sedangkan untuk analisa, dibutuhkan machine learning untuk mempelajari pola-pola baru kriminalitas.


Steven Totman (Managing Director of Financial Services, Cloudera) menambahkan, secara global, lembaga keuangan telah menghabiskan $ 1,28 triliun selama 12 bulan memerangi kejahatan keuangan. Diperkirakan bahwa gabungan pendapatan yang hilang karena kejahatan keuangan adalah $ 1,45 triliun selama 12 bulan terakhir. Dan 40,3 juta orang menjadi korban perbudakan modern menurut Global Estimates of Modern Slavery (ILO and Walk Free Foundation).

Disinilah peran Cloudera menjadi penting, karena Cloudera mampu mengidentifikasi data yang sifatnya anomali dan atau memberikan solusi data serta analitik dari semua big data di dunia maya. Cloudera melacak data tidak hanya dari transaksi tapi juga dari interaksi.

Cloudera juga mampu mengubah data yang kompleks menjadi wawasan yang jelas dan dapat ditindaklanjuti. Cloudera mengirimkan cloud data perusahaan untuk data apa pun, di mana saja, dari Edge ke AI. Didukung oleh inovasi tanpa henti dari komunitas open-source, Cloudera memajukan transformasi digital untuk perusahaan terbesar di dunia.