pulsa-logo

Trump Bakal Blacklist Perusahaan Cina yang Mencontek Teknologi dari AS, Benarkah?


Nariswari

Rabu, 30 Oktober 2019 • 18:24

perang dagang as cina,trum blacklist cina,perusahaan cina vs as


ilustrasi (doc PULSA)ilustrasi (doc PULSA)

Selama ini, banyak perusahaan China yang selain dianggap sebagai inovator teknologi yang unik, juga sangat piawai  dalam “nyontek” produk- produk teknologi dari perusahaan lain. Bahkan bisa dibilang sebagai “copy cat”. Ketika hal itu terjadi, itu tergantung pada perusahaan teknologi yang merasa “ditiru”, apakah mereka mencoba  untuk menempuh jalur hukum atau tidak. Akan tetapi sekarang sepertinya pemerintah AS mulai bertindak sangat tegas pada perusahaan-perusahaan China yang kedapatan menyalin ide teknologi dari perusahaan di AS.

Menurut sebuah kabar terbaru yang berasal dari Washington Post, Pemerintahan Donald Trump akan menempatkan perusahaan-perusahaan Cina ke daftar hitam (blacklist) jika mereka diketahui melanggar kekayaan intelektual milik perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Sedemikian rupa upaya AS untuk memperketat hubungan dengan Cina, sehingga perusahaan-perusahaan Cina yang “nakal” tersebut berpotensi ditempatkan di daftar entitas AS. Dan jika mereka sudah termasuk ke dalam daftar entitas AS, Pemerintah AS akan memberlakukan pelarangan perdagangan ke perusahaan-perusahaan Cina tersebut dengan AS.

Walau sepertinya kebijakan Pemerintah AS ini  dapat menguntungkan perusahaan-perusahaan AS yang mencari kesempatan atau peluang dari tindakan hukum yang akan diberlakukan untuk perusahaan-perusahaan Cina tersebut, tentu kebijakan tersebut dapat menyebabkan potensi penyalahgunaan. Salah satunya dapat digunakan sebagai “senjata politik” untuk menekan perusahaan-perusahaan Cina dalam perang dagang yang sedang berlangsung antara AS dan Cina.

Sejauh ini belum diketahui seberapa efektif kebijakan baru Pemerintah AS tersebut, apakah pelarangan tersebut hanya berlaku untuk perusahaan-perusahaan Cina menjual produk mereka secara global termasuk ke AS, atau juga berlaku  untuk perusahaan Cina yang hanya menjual produknya di pasar domestik.

Maraknya pemberitaan tentang kebijakan baru tersebut, membuat Gedung Putih akhirnya angkat suara. Seperti dilaporkan Ubergizmo, penasihat Gedung Putih, Peter Navarro menyangkal adanya kebijakan baru tersebut. Peter menyebut laporan itu adalah “hoax”, meskipun Washington Post tampaknya mempertahankan publikasi mereka dan bersikukuh bahwa itu bukan sekedar rumor. (*)