pulsa-logo

Menuju Energi 4.0 dengan Low Code


Fauzi

Jum'at, 29 November 2019 • 22:06

Revolusi Digital,Energy 4.0


Ilustrasi, Image: ShutterstockIlustrasi, Image: Shutterstock

Oleh: Mark Weaser, Vice President, OutSystems Asia Pacific

Menurut laporan International Energy Agency, konsumsi permintaan sektor energi Asia Tenggara diproyeksikan akan meningkat dua pertiga pada tahun 2040 bersamaan dengan peningkatan ekonomi dan pertambahan jumlah populasi. Sektor energi kini memainkan peran penting dalam memperkuat pengembangan smart city: Perusahaan energi di Singapura, khususnya, semakin meningkatkan aplikasi dengan nilai tambah dan analisis data, yang mencerminkan upaya ekstensif dalam berinvestasi dan memanfaatkan teknologi untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan sejalan dengan inisiatif Smart Nation.

Revolusi digital dalam sektor energi, yang diperkenalkan sebagai Energy 4.0, sedang menjadi pembicaraan di era baru ini, di mana aplikasi dan IoT dengan cepat menjadi pendorong ekonomi energy baru. Melihat hal ini, ada kebutuhan besar untuk mempercepat pengembangan solusi yang melengkapi pertumbuhan sistem manajemen energi di seluruh wilayah serta kolaborasi yang lebih erat antara sektor energi dan IT.

Mempercepat laju inovasi di sektor energi

Karena mewujudkan sustainability menjadi fokus utama dalam ranah infrastruktur dan teknologi, maka perlu untuk dapat mengatasi tantangan transformasi digital sekaligus mempercepat inovasi. Sementara banyak CIO di perusahaan yang menginginkan lebih banyak aplikasi dibuat untuk merampingkan proses internal dan eksternal, kekhawatiran umum yang muncul adalah apakah departemen IT dapat mengerjakan secara tepat waktu dan tidak melebihi kapasitas yang ada.

Sayangnya, kelangkaan talenta IT, banyaknya backlogs, dan mahalnya biaya untuk mempertahankan sistem lama terus mengganggu perjalanan transformasi digital dari banyak perusahaan di sektor energi.

Menurut State of Application Development Report, 46 persen responden APAC, termasuk perusahaan di sektor energi, terus menghabiskan lebih dari empat bulan untuk menyelesaikan aplikasi web, menunjukan proses pengembangan perangkat lunak yang memakan waktu. Selain itu, 63 persen responden APAC mengeluhkan backlogs sementara 16 persen menyatakan bahwa backlogs tersebut ada di lebih dari 10 aplikasi. 69 persen responden di seluruh sektor, termasuk energi, berencana untuk menyelesaikan setidaknya 10 aplikasi pada 2019 sementara 52 persen menargetkan 50 aplikasi atau lebih, hal ini menunjukkan permintaan yang sangat tinggi terhadap pengembang aplikasi.


Maraknya kekurangan tenaga pengembang aplikasi dengan sistem back-office yang tidak fleksibel dan sulit diintegrasikan, menyebabkan tim IT hanya dapat fokus untuk menjaga sistem tetap menyala, menghalangi mereka untuk berinovasi. Mengingat kebutuhan mendesak sektor energi untuk lebih gesit dan efisien dalam proses bisnis, kapasitas, dan operasional, maka sangat perlu untuk dengan cepat mengatasi kesenjangan antara tuntutan bisnis dan sumber daya tenaga IT yang tersedia. Ini adalah satu- satunya cara perusahaan di sektor energi dapat bergerak maju, karena fokus kebutuhan bergeser ke arah produksi yang cepat, manajemen terukur, dan modifikasi aplikasi pintar yang modern.

Membangun pondasi digital yang solid

Menghapus mentalitas silo dalam proses IT, mendorong manajemen siklus hidup yang lebih baik, memastikan kualitas sebuah aplikasi, dan memodifikasi tanpa gangguan kini telah menjadi sangat penting bagi sektor energi untuk dapat mempercepat inovasi dan mengoptimalkan manajemen bakat. Organisasi di sektor ini dapat mengambil manfaat dari menciptakan fungsi dasar yang memudahkan pengembangan aplikasi di seluruh siklus proses, dari penilaian proyek hingga distribusi aplikasi dan pemantauan infrastruktur. Pondasi digital dengan memanfaatkan platform pengembangan Low-code, yang merampingkan desain perangkat lunak dan proses pengembangan dengan kode minimal, adalah salah satu cara untuk memungkinkan tim IT di sektor energi untuk secara signifikan memberikan hasil lebih cepat dan lebih bisa diandalkan. Ini dapat memacu adopsi model operasi yang dapat dengan cepat memberdayakan tim IT lokal untuk mengembangkan aplikasi sendiri sambil tetap memastikan kepatuhan para pengembang terhadap aturan tata kelola dan standar kualitas yang tersedia.

Salah satu perusahaan yang mendapat manfaat dari inisiatif tersebut adalah Schneider Electric, yang membangun pabrik digital dengan sistem Low-code untuk mempercepat, menstandarisasi, dan meningkatkan proses pengembangan aplikasi dan lebih baik dalam mengatasi kesenjangan antara tuntutan bisnis dan sumber daya IT yang tersedia. Pabrik digital Low-code Schneider Electric telah memungkinkan mereka untuk mempercepat proses pengembangan dan membuat 30 aplikasi internal dengan hanya menghabiskan sekitar 40 persen dari waktu produksi teknologi tradisional biasanya, dan berhasil menghemat 650 hari di tahun pertama.

Dengan pondasi pabrik digital yang kokoh, Schneider Electric telah menghasilkan beberapa aplikasi untuk perusahaan besar yang berhasil meningkatkan efisiensi dalam rantai pasokan, keuangan, manajemen portofolio, dan manajemen manufaktur. Sebagian besar aplikasi ini dibuat untuk menggantikan aplikasi yang sebelumnya.

Dengan menggunakan Low-code, tim IT mendapatkan dukungan terbaik dalam proses pengembangan aplikasi untuk dapat berfungsi merampingkan proses implementasi aplikasi dan memudahkan pemeliharaan aplikasi dan proses peningkatan kualitas. Ini bisa sangat membantu dalam mendorong transformasi digital lintas sektor energi dengan mengatasi kebutuhan akan kecepatan waktu dan memungkinkan tim IT untuk menciptakan model bisnis sustainability baru yang memacu inovasi dengan investasi awal yang minimal dari sisi pengaturan, pelatihan, dan implementasi.