pulsa-logo

TikTok Hadapi Gugatan Class Action di AS, Soal Apa?


Nariswari

Kamis, 05 Desember 2019 • 10:57

TikTok Hadapi Gugatan Class Action di AS


ilustrasiilustrasi

Aplikasi pembuatan video pendek yang kreatif, TikTok, saat ini dikabarkan tengah menghadapi tuntutan class action. Hal ini terkait dengan tuduhan oleh penggunanya yang mengklaim bahwa TikTok mengumpulkan dan “memanen” data pengguna lalu mengirimkannya ke China.

Hal ini bermula dari pengguna-pengguna aplikasi TikTok di Amerika Serikat yang menduga tentang pelanggaran sensor baru-baru ini. Platform jejaring sosial China itu telah membantah tuduhan tersebut, dan TikTok kemungkinan akan berhadapan dengan badan keamanan nasional di Washington.

Pekan lalu, tuntutan class action telah dilayangkan terhadap TikTok di California, AS. ByteDance, perusahaan pengembang aplikasi yang berbasis di Beijing yang merupakan pengembang TikTok, terkait tuduhan serius terkait pengumpulan data pengguna tanpa pemberitahuan atau persetujuan dari pengguna yang dicurigai dikirim ke Cina. Selain itu, dalam gugatan itu juga disebutkan bahwa dalam aplikasi tersebut adanya perangkat lunak untuk mata-mata oleh China. Dikhawatirkan melalui perangkat lunak ini akan memungkinkannya untuk mengakses data pengguna dan mengirimkannya ke server induk di China, termasuk yang dijalankan oleh Tencent dan Alibaba Group Holdings.

Tuntutan ini bermula dari seorang pengguna TikTok di New Jersey yang dikunci dari akunnya setelah memposting sebuah video yang menyebarkan kesadaran masyarakat perihal penahanan massal masyarakat Uighur di Xinjiang. TikTok menghapus video tersebut setelah menjadi viral dan kemudian mengklaim bahwa hal itu tidak sengaja.

Saat ini, perusahaan induk TikTok, ByteDance, menghadapi tekanan dari Pemerintah AS, dan menghadapi penyelidikan oleh Komite Investasi Asing di Amerika Serikat. CFIUS dapat memaksa ByteDance untuk menpestasi operasi TikTok AS jika diketahui bahwa perusahaan tersebut memiliki ancaman keamanan nasional.

Baru-baru ini, TikTok mengklaim bahwa mereka menyimpan data pengguna AS di negara adidaya tersebut, bukan di server China. Mereka juga menyangkal telah melakukan sensor konten politik sesuai dengan instruksi Beijing.

Saat ini di negara barat, ada peningkatan rasa ketidakpercayaan terhadap merek-merek China atau yang didukung oleh perusahaan China. Huawei adalah salah satu contoh yang menghadapi tuduhan serupa selama sengketa perdagangan AS-China. (*)


Sumber