pulsa-logo

Bangga! Dua Kreator Indonesia Masuki 10 Besar Huawei Film Awards Asia Pasifik


Hairuddin

Kamis, 05 Maret 2020 • 19:12

Huawei, Huawei Film Awards, Film Pendek Smartphone Huawei, Huawei Mate 30 Pro, London School of Public Relations Communication and Business Institute


Huawei Film AwardsHuawei Film Awards

Huawei Indonesia dan London School of Public Relations Communication and Business Institute mengumumkan karya-karya terbaik Huawei Film Awards (HFA), termasuk 2 hasil karya dari Indonesia yang berhasil memasuki 10 besar Asia Pasifik. Hasil karya film pendek tersebut semuanya direkam menggunakan smartphone Huawei.

Dalam sambutannya di acara penganugerahan HFA di Indonesia, Lo Khing Seng selaku Deputy Country Head Huawei Consumer Business Group Indonesia mengungkapkan apresiasinya atas antusiasme para peserta dari Indonesia yang telah mengikuti ajang ini. “Saat ini kita berada di era di mana perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam mengasah kreatifitas, salah satunya dalam bidang sinematografi. Oleh karena itu, Huawei melalui Huawei Film Awards hadir sebagai platform bagi para customer untuk menampilkan karya terbaiknya, dan kami percaya karya dari kreator Indonesia memiliki kualitas yang mumpuni untuk bersaing di tingkat internasional.”

Dua sineas asal Indonesia yang berhasil menempati posisi 10 besar HFA Asia Pasifik, yakni film pendek bertajuk “Ero” karya mahasiswa LSPR Jakarta” dan Juhendi dengan judul film “JALU”. Karya-karya ini merupakan dua perwakilan konten kreator dari Indonesia yang menerima apresiasi Top 10 Konten Kreator Huawei Film Awards, dan Jalu menjadi film terbaik untuk tingkat Indonesia.

Syaifullah selaku Direktur Industri Film, Televisi dan Animasi, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun turut menyampaikan apresiasi dalam sambutannya dalam rangka penyelenggaraan HFA. “Banyak talenta-talenta muda di Indonesia yang memiliki potensi untuk bersaing di kancah internasional. Kompetisi ini menunjukkan bahwa karya dapat diciptakan melalui medium yang sederhana, seperti smartphone karena kuncinya adalah kreativitas dari inpidu itu sediri. Hal ini pun menunjukkan bahwa karya sinematografi mampu digunakan untuk mengangkat kekayaan Indonesia.”

Undang undang perfilman No. 33 Tahun 2009 pasal 32, mengatur jam penayangan film Indonesia sebanyak 60% dari seluruh jam pertunjukkan film yang beredar selama 6 bulan berturut – turut. Namun, jumlah produksi film Indonesia per tahun tidak sebanyak yang dihasilkan oleh Hollywood. Hal ini menjadi salahsatu bagian dari buku karya Dr. Andre yang berjudul “Melawan Hegemoni Perfilman Hollywood”, yang turut disampaikan dalam kesempatan yang sama.

Pada gelaran acara tersebut, Dr. Andre Ikhsano sebagai Rektor LSPR Communication & Business Institute pun mengungkapkan bahwa ajang yang diselenggarakan Huawei dapat menjadi langkah awal bagi para talenta-talenta muda untuk mengembangkan diri sehingga nantinya mampu mendukung perfilman Indonesia. “Dimulai dari film-film pendek sederhana ini, siapa tahu nantinya mereka dapat membuat karya yang mampu bersaing di bioskop. Sudah banyak teknologi yang memudahkan saat ini salah satunya dengn smartphone,” jelas Dr. Andre.

Salah satu smartphone Huawei yang dapat mendukung kebutuhan sinematografi adalah HuaweiMate 30 Pro. Perangkat ini dilengkapi dengan 40MP Cine Camera, 40MP SuperSensing Camera, 8 MP Lensa Telephoto, serta 3D TOF Camera. Sejauh ini, spesifikasi teknologi cine-lens di HUAWEI Mate 30 Pro adalah yang terbaik di dunia sinematografi seluler. (@hairuddin_ali)