pulsa-logo

Twitter Dituntut Rp492 Miliar Karena Lindungi Data Akun Anti Semit!


Nariswari

Minggu, 24 Maret 2013 • 15:35


Berita menghebohkan  datang dari Twitter yang konon digugat sebesar kisaran Rp492 Miliar karena menolak untuk mengungkapkan akun Anti Semit. Pada bulan Januari, sebuah pengadilan tinggi  di Perancis memutuskan bahwa Twitter harus menyerahkan rincian dari orang-orang yang telah tweeted (berkicau) komentar rasis, mengandung provokasi agama dan anti-Semit. Twitter juga dituntut untuk  mendirikan sebuah sistem computing yang akan mengingatkan polisi tentang konten tweet yang akan dimuat.  Sayangnya, Twitter mengabaikan  tuntutan tersebut, dan sekarang Persatuan Mahasiswa Yahudi Perancis (UEJF) menggugat Twitter dengan nilai cukup fantastis yakni € 38.5M (£ 32.8M) atau Rp492 miliar.

Kasus ini berkisah hashtag #unbonjuif "seorang Yahudi yang baik" di mana tweet-nya menjadi ketiga yang paling populer di situs jejaring social ini sejak  Oktober 2012. #unbonjuif di Twitter menyebarkan kalimat-kalimat kebencian pada Yahudi, dan menyebarkan propaganda yang membakar kebencian akan Yahudi.

UEJF tidak tinggal diam dan membawa Twitter ke pengadilan, menuntut situs tersebut untuk mengungkap  tweeted anti-Semit yang  menggunakan hashtag diberi nama oleh Twitter sehingga polisi bisa menuntut mereka lebih lanjut secara hukum.

Twitter menolak, dengan alasan demokrasi dan privacy yang merupakan basis landasan pemerintahan di Amerika Serikat dan mengacu pada  kebebasan Amandemen 1 tentang jaminan mengungkapkan pendapat di muka umum. Pengadilan Tinggi  Paris memutuskan Twitter dengan  memberikan dua minggu untuk memenuhi atau menghadapi denda sampai € 1,000 (£ 849) /hari atau memenuhi  permintaan penggugat.

Jika UEFJ memenangkan kasusnya, pihaknya berencana untuk menyumbangkan uang kepada Dana Memorial Shoah Jewish. Twitter telah mengatakan akan mengajukan banding atas keputusan tersebut.  Twitter sepertinya menghadapi dilema besar jika menuruti kehendak penggugat, karena jika Twitter mengungkap akun seseorang, maka Twitter akan banyak kehilangan kepercayaan dan privacy pengguna akun.

Sebelumnya, Twitter pernah dilanda kasus yang sama saat terdengar issue heboh tentang Neo Nazi yang mengumbar kebencian pada Anti-Semit di Twitter. (Nariswari)