pulsa-logo

Impresi Awal Huawei P30 Pro, Konsentrasi Pada Peningkatan Kamera


Ahmad S.

Senin, 01 April 2019 • 19:44

huawei, huawei P30 pro, lossless zoom camera, camera,


Bahagia sekali Pulsa berkesempatan mereview produk yang unik ini. Sejak awal diperkenalkan pada 26 Maret 2019, ponsel ini menarik perhatian bukan saja pada pengaplikasian prisma pada lensa kamera untuk mendapatkan gambar zoom yang lebih baik, tapi juga tentang semangat Huawei dalam mengubah pendekatan di sisi kamera ponsel. Apa saja perubahan yang dibawa kamera Huawei P30 Pro? Pastinya itu yang membuat kami penasaran.

Tulisan ini sekaligus menjadi tulisan hands on, menjabarkan impresi kami di menit-menit awal penggunaan produk ini.Nantikan review mendalamnya di beberapa hari ke depan.

Ubah Tampilan PadaDesain Back Cover

Jika di produk-produk sebelumnya Huawei sempat menggunakan desain gradasi dua warnayang terinspirasi oleh fenomena alam aurora, lalu ada desain mengalir atau flowing design di Mate 20 Pro, maka kali ini Huawei mencoba memberi pendekatan berbeda.

Masih tetap terinspirasi oleh warna-warna yang dipersembahkan oleh alam, Huawei P30 Pro mencoba menggali lebih banyak warna gradasi. Kali ini sumber inspirasinya adalah Salt Flats atau dataran garam padat yang kerap memunculkan efek cermin dengan pewarnaan berbeda tergantung dari waktu dan musim yang berlangsung.

P30 pro menawarkan 3 pewarnaan yang menarik. Breathing Crystal, seperti yang bakal kami review kali ini. Menggambarkan efek warna putih langit yang terpantul pada dataran luas dengan semburat warna biru di tengah sebagai kaki langit atau horison. Lalu ada Amber Sunrise yang cenderung merah ke arah oranye, menggambarkan gradasi antara langit pagi dan pantulannya di saat matahari terbit, juga ada warna Aurora dengan gardasi biru ke hijau.


Intinya, Huawei kembali ingin menegaskan kesan elegan lewat P30 Pro, menjadikannya produk yang apik di sisi teknologi, namun juga tetap menarik di sisi desain.

Layar AMOLED Hingga ke Tepian

Hal lain yang langsung bisa kita rasakan saat memegang ponsel ini untuk pertama kali adalah layarnya yang tajam. Meski dengan resolusi khas seri P, yakni 2340 x 1080 pixel atau masuk dalam kategori FHD+ dengan rasio layar 19.5:9, layar ponsel tertampil apik berkat penggunaan jenis layar OLED yang mendukung HDR. 

Penggunaan jenis layar ini juga membuatnya tampil cantik secara desain karena memanfaatkan sisi ponsel dengan maksimal. Dengan demikian, tidak lagi ada bezel di bagian samping kiri dan kanan layar. Bahkan pada bagian ini kadang dapat tersentuh secara tidak sengaja saat kita memegang bagian tepi ponsel ini.

Tapi ada teknologi lain yang menarik di balik alasan penggunaan layar OLED ini. Selain menyematkan sensor sidik jari di bawah layar, ponsel ini juga tidak lagi menyediakan speaker earpiece untuk bertelepon. Sebagai gantinya Huawei menggunakan Huawei Acoustic Display Technology, dimana getaran suara dialirkan melalui layar menuju ke telinga penggunanya.

Tidak perlu khawatir suara lawan bicara akan terdengar dengan mudah oleh orang yang ada di sekeliling kita. Teknologi ini tetap akan mempertahanakan privasi percakapan Anda, hanya untuk Anda sendiri, layaknya menggunakan earpiece tradisional.

Untuk itu, maka kamera depan bisa dimuat dalam satu bentukan notch yang kecil bak tetesan embun (dew drop) tanpa perlu lagi ditemani oleh earpiece.

Dua Biometrik Andalan

Bergeser ke bagian fitur pengaman, Huawei P30 Pro menggunakan 2 pengaman biometrik sekaligus. Sampai sini tentu Anda berpikir tidak ada yang menarik. Tapi jangan salah, seperti pendahulunya, Mate 20 Pro, ponsel ini juga sudah dibekali sensor sidik jari di bawah layar. Dan performanya sudah bisa dibilang mumpuni. Ada perbaikan dari penerapan di produk sebelumnya.

Bersama dengan in-display fingerprint sensor, juga ada face detection. Anda bisa memilih behavior nya apakah langsung membuka lock screen ke home screen, atau hanya membuka kuncinya saja, sementara untuk ke homescreen Anda masih harus menggeser klayar ke atas.

Bila keduanya diaktifkan, pastikan Anda memilih face detection untuk langsung membuka layar. Kalau tidak nanti ada sedikit rancu. 

EMUI 9 Yang Tetap Potensial

Sebagai custom UI, EMUI bukan anak kemarin sore. Pengembangannya terus berkelanjutan dan memberikan sejumlah fitur-fitur anyar di setiap versinya. Kali ini bersama dengan UI bawaan Google Pie, sejumlah fungsi lawas dan baru yang kita butuhkan sudah bisa kita gunakan. Terutama di sisi kontroling menggunakan gesture, multiscreen, one hand mode dan sebagainya.

Tapi, jika Anda membelinya sekarang, hari ini juga, maka Anda mungkin harus menunggu beberapa saat untuk mendapatkan update baru lagi yang membawa banyak fitur menarik, di antaranya di sisi kamera, sinkronisasi dengan perankat dan perkakas lain dan sebagainya.

Tidak banyak yang bisa dikeluhkan dari EMUI anyar ini, kecuali pada tampilannya yang mungkin bagi sebagian orang dianggap terlalu kaku. Itupun tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk terbiasa.

Chipset Kirin Teranyar

Seperti sudah disebutkan di dalam judul dan paragraf pertama tulisan ini, layaknya seri P huawei lain, P30 Pro lebih cenderung berkonsentrasi pada kamera. Tapi bukan berarti urusan performa ditinggalkan. 

Huawei P30 menggunakan chipset sama yang digunakan Mate 20 Pro. Yaitu Kirin 980. Memadukan CPU, GPU dan NPU untuk efisiensi daya yang lebih baik. Ponsel ini di atas kertas memiliki performa yang buas. Ditambah dengan teknologi penghantar panas yang lebih baik, maka ponsel ini terasa lebih adem ketimbang Mate 20 Pro ketika digunakan ngegame PUBG. 

Mengingat kedua ponsel ini sudah sama-sama menggunakan GPU Turbo, maka ademnya P30 Pro merupakan hasil dari penggunaan rancangan Huawei SuperCool, yang memadukan lapisan graphene, grafit dan desain pipa penghantar panas untuk meningkatkan performa ponsel.

Produk yang ada di meja review PULSA ini merupakan varian yang kemungkinan besar akan dirilis di Indoneisa tanggal 12 April mendatang. Yakni produk dengan RAM 8 GB dan penyimpanan internal 256 GB.

Kami sempat menguji dengan beberapa aplikasi benchmarking dan hasilnya relatif lebih rendah dari Mate 20 Pro. Meskipun tidak terlalu signifikan. Artinya kinerja keduanya kami percaya berada di satu level yang sama. Hanya saja kenyataan ini membuat kami lebih yakin bahwa P30 Pro memang cenderung lebih berkonsentrasi pada pengembangan kamera.

Banyak Perubahan di Kamera

Nah bagian kamera ini yang paling seru untuk dikupas. Seperti yang telah kita ketahui, sejak P9, Huawei bekerja sama dengan pabrikan kamera Leica dalam mengembangkan sensor dan algoritma pengambilan gambarnya. Dan setiap produk baru pasti membawa peningkatan fitur, tak terkecuali di Huawei P30 Pro ini.

Perubahan pertama, yang terlihat adalah hadirnya 4 kamera di bagian belakang, 3 tersusun memanjang dari atas ke bawah, dan satu lagi diletakkan di bawah flash. Satu kamera yang menempati titik paling atas merupakan kamera 20MP ultrawide angle (16 mm) f2.2. Sementara di bawahnya ada 40MP wideangle lens (27mm) f1.6.

Sedangkan dua kamera lain, yakni yang paling bawah di kelompok yang tersusun memanjang ini, adalah kamera baru yang menggunakan teknologi periskop. Desain seperti ini sudah diperkenalkan pertama kali sejak MWC 2017 lalu oleh vendor pesaing. Sebagai solusi untuk mendapatkan gambar yang solid menggunakan beberapa tumpuk lensa yang tersusun menyamping, sehingga tidak membuat ponsel jadi terlihat gendut. Lalu untuk menangkap gambar hingga sampai ke sensor melalui tumpukan lensa tersebut, maka mereka menggunakan kaca prisma yang akan membelokkan cahaya ke arah samping, dimana tumpukan lensa dan sensor berada.

Dengan semakin banyak lensa yang terlibat dalam pengambilan gambar melalui kamera ini, maka kita dapat melakukan perbesaran gambar yang setara dengan perbesaran optical. Dimana kualitas foto dapat dipertahankan meski mengalami perbesaran. Dalam hal ini Huawei P30 Pro mampu menangkap gambar dengan perbesaran 5X secara optical, 10X hybrid dan hingga 50 X secara digital.

Hasilnya bisa dilihat pada foto berikut.

Outdoor 1XOutdoor 1X

Outdoor 5XOutdoor 5X

Landscape 1XLandscape 1X

Landscape 5X opticalLandscape 5X optical

Landscape 10X HybridLandscape 10X Hybrid

Lalu yang terakhir ada kamera ToF Depth sensing, singkatan dari Time of Flight. Merupakan sensor kamera untuk membedakan jarak antara obyek utama dengan latar belakang. Secara teori, foto portrait yang bisa dihasilkan oleh ponsel ini akan memperlihatkan gambar bokeh yang lebih halus tanpa terlihat artifisial.

Percobaan yang kami lakukan cukup untuk menjelaskan arti penting hadirnya kamera ini dalam meningkatkan kualiatas foto portrait di Huawei seri P. Silakan cek di gamabr-gambar berikut.

PortraitPortrait

Lalu masih di urusan pengambilan gambar, secara spesifikasi kamera P30 Pro sudah bisa banyak bicara soal kemampuannya menangkap cahaya. Bukaan kamera utamanya adalah f/1.6. Tapi itu saja belum cukup, Huawei P30 Pro juga merupakan produk pertama Huawei yang menggunakan sensor RYYB (red yellow yellow blue) menggantikan sensor RGGB (red green green blue). 

Mengganti filter berwarna hijau dengan kuning, akan meningkatkan kemampuan sensor dalam menangkap lebih banyak warna hijau dan merah ke dalam spektrum warna yang terlihat. Ini akan meningkatkan kapasitas cahya yang masuk, hingga 40 % lebih banyak.

Kamera Huawei P30 Pro kini memiliki ISO yang besar, yakni 409.600 (empat ratus sembilan ribu enam ratus).

Berbagi Daya Secara Nirkabel

Kehadiran kemampuan wireless reverse charging di Huawei Mate Pro, meskipun awalnya dianggap nge-troll, namun dirasakan manfaatnya oleh beberapa pengguna yang kami temui. Mungkin atas dasar yang sama, maka fitur ini kembali dihadirkan di produk P30 Pro.

Karena kapasitas baterai P30 Pro sendiri sudah mumpuni, yakni di angka 4200 mAh dengan dukungan fast charging (huawei super charge), maka membagi daya dengan sesama pengguna ponsel yang mendukung pengisian daya nirkabel tidak akan menjadi masalah.

Demikian tulisan impresi awal PULSA mengenai Huawei P30 Pro ini. Pengen tahun harga Huawei P30 Pro resmi dan bagaimana kamera huawei P30 Pro ini lebih lanjut? Nantikan reviewnya secara lebih mendalam di beberapa hari mendatang. (@halusanusi)